TARAKAN — Titik bara di lereng sempit itu berada sangat dekat dengan dinding rumah warga. Kondisi tersebut membuat petugas tidak bisa bekerja leluasa, apalagi armada pemadam berukuran besar tidak dapat menjangkau lokasi secara langsung.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran (PMK) dan Penyelamatan Dinas Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriatnoko, menyebut risiko utama bukan lagi api yang terlihat, melainkan panas yang tersimpan di dalam struktur batu bara.
"Kondisinya cukup berisiko karena titik api yang menganga berada di tebing miring dan jaraknya sangat dekat dengan dinding rumah warga. Bahkan, dinding rumah sudah terasa panas dan ada kusen yang terancam terbakar jika terlambat ditangani," ujar Eko, Jumat (16/10).
Puluhan Lubang Dibor Manual hingga Kedalaman 1,5 Meter
Penyemprotan air dari permukaan dinilai tidak cukup. Petugas kemudian membuat puluhan lubang menggunakan bor manual milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membuka jalur masuk air ke bagian dalam batu bara yang masih membara.
Lubang-lubang tersebut memiliki kedalaman bervariasi, sekitar 0,5 meter hingga 1,5 meter. Dari lubang itulah air disemprotkan agar bisa meresap sampai ke inti tumpukan yang panas.
"Lokasi kejadian berada di lereng bukit yang sempit sehingga tidak bisa dijangkau oleh armada pemadam berukuran besar," jelasnya.
Air Dicampur Cairan Pencuci Piring agar Meresap ke Pori Batu Bara
Air biasa tidak mampu menembus struktur batu bara yang padat. Berdasarkan rekomendasi analis, petugas menambahkan cairan pencuci piring ke dalam air untuk membantu proses peresapan.
Penyemprotan dilakukan perlahan melalui selang sepanjang kurang lebih 120 meter atau setara lima gulung selang. Petugas menunggu air mendidih di dalam lubang sebelum menembakkan tekanan tinggi agar bara yang terbakar rontok.
"Cairan tersebut membuat air lebih mudah meresap ke pori-pori batu bara. Kita spray perlahan sampai airnya mendidih di dalam lubang, lalu kita lakukan penembakan tekanan tinggi agar bara yang terbakar rontok," terangnya.
Tanggul Karung Pasir Cegah Air Meluber ke Permukiman
Di bagian bawah lereng, petugas membuat tanggul dari dua karung berisi pasir. Tanggul itu berfungsi menahan aliran air agar tidak meluber ke area permukiman warga di sekitar RT 63.
Setelah penyemprotan, penanganan dilanjutkan dengan melongsorkan material tanah di lereng menggunakan nozzle bertekanan tinggi hingga menjadi lumpur. Material tersebut diarahkan menutup area yang terbakar sehingga pasokan oksigen berkurang dan bara tidak kembali menyala.
Penanganan melibatkan personel Damkar dari Mako, Sektor Barat, Sektor Utara, DLH, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan.
Warga Diminta Lapor jika Muncul Asap Sekecil Apa Pun
Meski proses pemadaman telah dinyatakan selesai, petugas tetap melakukan pemantauan berkala. Material batu bara berpotensi menyimpan panas meski api di permukaan tidak lagi terlihat.
Eko mengingatkan warga agar tidak mengabaikan kemunculan asap tipis di lokasi tersebut. Laporan cepat dinilai penting untuk mencegah bara menyala kembali.
"Warga sekitar juga diminta untuk segera melapor jika kembali mendapati kemunculan asap sekecil apa pun di area tersebut," tegasnya.