TANJUNG SELOR — Kepengurusan PMI Malinau masa bakti 2026–2031 resmi dilantik Ketua PMI Kalimantan Utara Risdianto. Ernes Silvanus yang kembali dipercaya memimpin menyebut komposisi pengurus baru sebagian besar diisi orang-orang lama. Menurutnya, kesinambungan itu memudahkan organisasi langsung bekerja tanpa masa penyesuaian panjang.
Hasil evaluasi PMI Kaltara menempatkan Malinau sebagai salah satu pengurus dengan kinerja baik. Risdianto berharap capaian itu dipertahankan sambil memperkuat kesiapsiagaan menghadapi persoalan kemanusiaan di wilayah perbatasan.
Ernes menyebut markas PMI Malinau belum lengkap sarana-prasarana. Kelengkapan fasilitas itu menjadi pekerjaan rumah utama pengurus baru. "Prioritas kami sekarang ini adalah markas PMI yang harus dilengkapi sarana-prasarananya," kata Ernes.
Selain markas, penguatan Unit Transfusi Darah masuk daftar teratas. Ernes menilai layanan itu vital bagi kebutuhan darah rumah sakit dan puskesmas di Malinau. "Begitu juga dengan unit transfusi darah, karena ini sangat penting dan vital bagi kesehatan masyarakat," ujarnya.
Partisipasi warga Malinau dalam donor darah tercatat tinggi. Modal sosial itu akan terus didorong agar stok darah tersedia berkelanjutan, tidak hanya saat ada kegiatan tertentu.
PMI Malinau akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah teknis. Risdianto menegaskan koordinasi itu penting agar potensi kerawanan bencana bisa dideteksi dan ditangani lebih dini.
Risdianto juga mengingatkan tujuh prinsip PMI harus dipegang dalam setiap langkah. "Dengan kondisi global sekarang ini, kita harus siaga terhadap bencana, termasuk persoalan kesehatan seperti HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria," katanya.
Peran PMI, lanjutnya, tidak berhenti pada penanganan bencana. Dukungan terhadap persoalan kesehatan dan kemanusiaan lain juga menjadi bagian kerja organisasi.
Wilayah Malinau yang luas dan berbatasan langsung dengan Malaysia menjadi tantangan tersendiri. Akses ke sejumlah daerah seperti Apau Kayan masih bergantung pada transportasi udara. Waktu tempuh mencapai satu hingga satu setengah jam jika penerbangan tersedia.
Karena itu, pembinaan Palang Merah Remaja dinilai strategis, terutama di kawasan perbatasan. Ernes menyebut PMR bisa menjadi ujung tombak edukasi kemanusiaan di sekolah dan kampung-kampung terpencil.
Pengurus baru juga menyiapkan pembinaan generasi muda untuk pencegahan perjudian daring, penyalahgunaan narkoba, dan penyebaran paham radikal. Pendekatan yang dipakai adalah kemanusiaan dan edukasi, bukan pendekatan represif.
Ernes memastikan PMI Malinau siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjalankan misi kemanusiaan. "Apa pun tantangannya, PMI Malinau memastikan kesiapan untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjalankan misi kemanusiaan," pungkasnya.