BEIJING — Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Abdul Hakim menyatakan pihaknya akan berkoordinasi secara internal untuk membahas tiga isu utama sebelum menyusun nota kesepahaman dengan MONTSAME. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuannya dengan Direktur Jenderal Kantor Berita MONTSAME Enkh-Orshikh Khurlee di sela acara World Media Summit ke-7 di Beijing.
"Kami menyambut positif tawaran ini dan setelah segera tiba di Tanah Air, kami akan berkoordinasi secara internal untuk membahas tiga isu utama untuk nota kesepahaman kedua kantor berita," kata Abdul Hakim.
Enkh-Orshikh menyebut pihaknya tertarik menandatangani kerja sama dengan ANTARA pada tiga bidang. Pertama, kedua kantor berita dapat saling bertukar pemberitaan. Kedua, saling mengirimkan wartawan ke Indonesia maupun Mongolia.
"Ketiga agar dapat bekerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI)," kata Enkh-Orshikh.
Menurutnya, tahun ini bertepatan dengan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Mongolia dan Indonesia. Ia berharap kerja sama kedua kantor berita tidak ikut tertunda meski kunjungan tingkat tinggi para pemimpin kedua negara sempat ditunda.
"Seharusnya ada 'high level visit' dari para pemimpin kedua negara, entah presiden atau perdana menteri Mongolia ke Indonesia atau presiden Indonesia ke Mongolia, tapi hal itu ditunda, tapi kami harap kerja sama Montsame dan ANTARA tidak tertunda," tambah Enkh-Orshikh.
Enkh-Orshikh berencana mendatangi kantor ANTARA pada Maret atau April 2027 untuk mematangkan konsep MoU. Rencana itu melanjutkan penjajakan yang sudah berjalan sebelumnya.
Duta Besar Mongolia untuk Indonesia Enkhtaivan Dashnyam telah mengunjungi Kantor Berita ANTARA di Antara Heritage Center, Jakarta, pada 15 September 2025. Saat itu, kedatangan Enkhtaivan disambut Direktur Utama Perum LKBN ANTARA yang dijabat Akhmad Munir, Direktur Pemberitaan Irfan Junaidi, dan Kepala Redaksi Internasional Yuni Arisandy Sinaga.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas potensi kerja sama ANTARA dan MONTSAME, termasuk peluang pertukaran konten dan penguatan jejaring informasi antarnegara. Enkhtaivan juga menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Mongolia di Indonesia telah kembali beroperasi.
Hubungan diplomatik Mongolia dan Indonesia terjalin sejak 22 Desember 1956 dan memasuki usia ke-70 pada 2026. Kedua negara tercatat beberapa kali melakukan kunjungan tingkat tinggi antarpemimpin.
Presiden Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat mengunjungi Indonesia pada 1997, disusul Presiden Natsagiin Bagabandi pada 2005. Ada pula kunjungan Perdana Menteri Nambaryn Enkhbayar pada 2002 dan PM Sükhbaataryn Batbold pada 2011.
Dari pihak Indonesia, tercatat tiga presiden pernah berkunjung ke Mongolia, yaitu Soekarno pada 1956, Megawati Soekarnoputri pada 2003, dan Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga berkunjung pada 2016.
Kedua negara menggelar pertemuan Komisi Bersama di Jakarta pada 2015, konsultasi antarkementerian luar negeri pada 2019 dan secara daring pada 2022, serta konsultasi politik pada 26 Februari 2026 di Jakarta.