SEBATIK — Jembatan yang menjadi satu-satunya akses warga menuju MI Darul Furqon di Sebatik Tengah ambruk diterjang banjir beberapa hari lalu. Peristiwa ini membuat aktivitas belajar mengajar, terutama pelaksanaan ujian sekolah, terhambat total.
Para orang tua tak punya pilihan lain. Mereka menggendong anak-anaknya, menyeberangi arus sungai yang masih deras, demi sampai ke sekolah tepat waktu. "Tidak ada jalan lain, ujian sudah dijadwalkan. Kami bergantian menggendong anak, ada yang sampai terjatuh karena licin," ujar seorang warga setempat.
Jembatan yang ambruk tersebut merupakan infrastruktur vital bagi warga di tiga dusun di Sebatik Tengah. Selama ini, jembatan itu menjadi jalur utama untuk mengangkut hasil pertanian, pergi ke pasar, dan tentu saja, menyekolahkan anak.
Sejak jembatan putus, warga harus memutar hingga dua kali lipat jarak tempuh jika ingin ke kecamatan. Namun, untuk urusan ujian sekolah, memutar bukan pilihan karena waktu tidak memungkinkan. "Kami tahu ini berbahaya, tapi anak-anak tidak boleh bolos ujian," kata orang tua lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda perbaikan dari pemerintah setempat. Warga berharap jembatan darurat segera dibangun agar aktivitas ekonomi dan pendidikan tidak terganggu lebih lama.
Mereka juga meminta agar pemerintah daerah menurunkan tim untuk menilai kondisi sungai dan memberikan solusi jangka panjang. "Kami tidak ingin setiap musim hujan begini, anak-anak harus berenang dulu untuk sekolah," tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Nunukan, yang membawahi wilayah Sebatik, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait ambruknya jembatan ini. Warga berharap ada kunjungan dinas terkait dalam waktu dekat.
Beberapa warga mengaku sudah melapor ke kantor desa, namun belum ada tindak lanjut. "Kami hanya butuh jembatan darurat dulu, yang penting anak-anak bisa sekolah dengan aman," pungkasnya.