Modal Awal Rp 900 Ribu, Pengrajin Batik Yogus asal Bulungan Kini Raup Omzet Rp 40 Juta per Bulan

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:44:01 WIB
Pengrajin batik Yogus asal Bulungan, Aldi Bagus Firmansyah, menunjukkan proses pembuatan batik di rumahnya yang juga berfungsi sebagai galeri di UPT Sepunggur, Tanjung Selor.

TANJUNG SELOR — Di tengah terik matahari kawasan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Sepunggur RT 003, lima pekerja terlihat fokus membatik. Aldi Bagus Firmansyah, pemuda 27 tahun pemilik Batik Yogus, menyambut hangat di ruang tamu rumahnya yang juga menjadi galeri kecil tempat kain dan busana batik siap jual dipajang.

Perjalanan Aldi tidak selalu mulus. Ia mengawali usaha pada 2020 saat mengikuti pelatihan membatik virtual yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (KPwBI Kaltara) di tengah pandemi COVID-19. Dua tahun pertama, produknya nyaris tidak laku.

Awal Mula: Bermodal Pelatihan Virtual dan Semangat Sang Ibu

Dari pelatihan yang diikutinya, Aldi mulai belajar pewarnaan hingga menghasilkan kain batik. Namun, pemasaran menjadi kendala terbesar. Ia hanya menitipkan produknya ke pengrajin batik lain yang sudah lebih dulu eksis.

"Kita menyadari awal merintis tentu produk belum banyak yang mengenal. Baik di kalangan masyarakat maupun pemerintahan," ucap Aldi.

Modal awal yang digunakan pria kelahiran 1999 itu bahkan kurang dari Rp 1 juta. Di ambang putus asa karena produk tak kunjung terjual, sang ibu menjadi penyemangat utama agar Aldi bertahan di usaha batik.

Momen Kebangkitan: Pameran dan Pergub Batik Khas Kaltara

Perlahan, produk Batik Yogus mulai dikenal setelah Aldi aktif mengikuti pameran di Tanjung Selor. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk mendemokan proses pembuatan batik secara langsung kepada pengunjung.

"Alhamdulillah bisa mendapatkan modal untuk membeli bahan usaha. Dari hasil pameran itu juga perlahan produk batik saya dikenal khalayak ramai," tuturnya.

Puncaknya terjadi pada 2022. Dukungan regulasi berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 21 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Batik Khas Daerah Provinsi Kalimantan Utara menjadi angin segar. Aturan itu mewajibkan pegawai di lingkungan Pemprov Kaltara memakai batik khas daerah setiap hari Kamis.

Motif Khas yang Terus Dikembangkan

Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Aldi berupaya menyesuaikan motif batiknya dengan kekhasan Kalimantan Utara. Ia bahkan mendatangi sejumlah tokoh adat untuk menggali filosofi dan corak khas daerah.

Kini, setelah tiga tahun menekuni usaha, produksi Batik Yogus terus meningkat. Dukungan pembinaan dari KPwBI Kaltara juga kembali mengalir. Batik Yogus kerap dibawa dalam berbagai event, termasuk mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) di tingkat pusat sebanyak tiga kali.

"Dalam waktu dekat ini kembali mengikuti KKB (Karya Kreatif Benuanta) 2026 di Kebun Raya Bundayati Tanjung Selor," ungkap Aldi.

Kesuksesan Aldi menunjukkan bahwa UMKM lokal dengan modal terbatas mampu bersaing jika diiringi ketekunan dan keberanian mencoba hal baru. Ia pun membuka kesempatan bagi pelanggan untuk melihat langsung proses produksi batiknya setiap hari.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: beraupost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top