Ekspor BYD Melonjak 67,8 Persen, Penjualan Domestik Tergerus karena Blade Battery

Penulis: Boyke Sihombing  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:53:01 WIB
Kendaraan listrik BYD terparkir di area pelabuhan ekspor di Kalimantan Utara, Selasa (28/8/2026).

KALIMANTAN UTARA — Laporan interim BYD yang dirilis 28 Agustus 2026 menunjukkan kondisi yang kontras. Pendapatan operasional perusahaan tercatat 344,815 miliar yuan (sekitar Rp 776 triliun dengan kurs Rp 16.000), turun 7,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham juga terpangkas 20,54 persen menjadi 12,32 miliar yuan.

Meski begitu, kuartal kedua 2026 memberikan sinyal pemulihan. Laba bersih BYD pada periode April-Juni tumbuh sekitar 30 persen secara tahunan, dengan margin kotor menyentuh 18,9 persen—level tertinggi dalam setahun terakhir.

Blade Battery Generasi Kedua Jadi Biang Keladi Penurunan Penjualan

Total penjualan New Energy Vehicle (NEV) BYD sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 1,8085 juta unit, turun 15,72 persen secara tahunan. Chairman sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, secara terbuka mengaitkan penurunan ini dengan rantai pasok, bukan melemahnya permintaan.

Baterai Blade generasi kedua masih dalam tahap peningkatan kapasitas produksi atau ramp-up. Wang bahkan menegaskan bahwa penjualan BYD tahun ini sangat bergantung pada kemampuan produksi baterai tersebut.

Kondisi ini menjadi pelajaran penting bagi industri kendaraan listrik: pertumbuhan penjualan tidak semata-mata ditentukan oleh permintaan pasar, tetapi juga kesiapan pabrik komponen utama.

Ekspor Kini Menopang Hampir Separuh Total Penjualan

Di tengah pelemahan domestik, strategi ekspansi global justru bekerja. Data Asosiasi Produsen Otomotif Tiongkok (CAAM) mencatat BYD mengekspor sekitar 792.000 kendaraan pada semester pertama 2026, melonjak 67,8 persen secara tahunan. Angka ini setara hampir 44 persen dari total penjualan perusahaan.

Wang optimistis target ekspor 1,5 juta unit sepanjang 2026 akan terlampaui. Pasar luar negeri kini bukan lagi pelengkap, melainkan mesin pertumbuhan utama BYD.

Geely Kian Menempel di Pasar Domestik China

Persaingan di negeri sendiri semakin memanas. Sepanjang semester pertama 2026, Geely Auto membukukan penjualan domestik sekitar 950.000 unit, termasuk kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Artinya, selisih penjualan dengan BYD di pasar China hanya sekitar 66.000 unit.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Geely menyalip BYD dalam penjualan domestik sepanjang 2026. Dominasi BYD di pasar kendaraan listrik China tidak lagi bisa dianggap aman.

Merek Premium Ikut Menopang Pertumbuhan

BYD juga mengandalkan strategi premiumisasi lewat Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang. Ketiga merek ini mencatat penjualan gabungan sekitar 228.000 unit pada semester pertama 2026, meningkat 61 persen secara tahunan dan berkontribusi sekitar 12,6 persen terhadap total penjualan.

Dari sisi pendapatan, segmen otomotif dan produk terkait masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 275,34 miliar yuan atau 79,85 persen dari total pendapatan. Segmen elektronik tumbuh tipis 0,96 persen menjadi sekitar 69,405 miliar yuan.

BYD menyebut fluktuasi nilai tukar dan kerugian selisih kurs turut menekan laba bersih, meski profitabilitas bisnis inti dinilai masih relatif stabil. Laporan ini memperlihatkan dua wajah BYD: pelemahan di domestik, tetapi ekspansi global dan segmen premium tumbuh signifikan.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: mobitekno.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top