Pencarian

Rantai Distribusi dan Utang Modal: Dua Beban Berat Petani Rumput Laut Tarakan

Senin, 23 Februari 2026 • 16:00:15 WIB
Rantai Distribusi dan Utang Modal: Dua Beban Berat Petani Rumput Laut Tarakan
Petani rumput laut Tarakan menghadapi tantangan utang modal dan kualitas produk yang menurun. (AI)

TARAKAN – Kejayaan rumput laut di Tarakan yang sempat bersinar satu dekade lalu kini menghadapi tembok besar. Bukannya melesat sebagai komoditas unggulan, nasib para pembudidaya justru stagnan. Masalahnya klasik namun sistemik: rantai distribusi yang terlalu panjang dan standar kualitas pascapanen yang menurun.

Dinas Perikanan (DPK) Tarakan mengidentifikasi bahwa lemahnya posisi tawar petani berakar pada tata niaga yang berbelit. Distribusi hasil panen harus melewati banyak tangan—mulai dari peluncur tingkat pertama, kedua, pengumpul kecil, hingga pengumpul besar—sebelum sampai ke pasar utama.

Lingkaran Setan "Utang Modal"

Idealnya, petani bisa memotong jalur distribusi ini untuk mendapatkan harga tinggi. Namun, realita di lapangan berkata lain. Kabid Budidaya Perikanan DPK Tarakan, Husna Ersant Dirgantar, mengungkapkan bahwa mayoritas petani terjebak dalam ketergantungan modal.

"Banyak pembudidaya yang terikat pinjaman modal kepada pengumpul tertentu. Akibatnya, mereka wajib menjual hasil panen ke pihak tersebut dengan harga yang sudah ditentukan. Tanpa ikatan utang, mereka sebenarnya bisa langsung menyuplai ke pengumpul besar dengan nilai jual yang jauh lebih baik," jelas Husna, Minggu (22/2).

Masalah Kualitas dan Desakan Ekonomi

Selain faktor sistem penjualan, perilaku pascapanen menjadi rapor merah bagi rumput laut Tarakan. Demi mengejar perputaran uang yang cepat untuk modal harian, banyak petani nekat menjual produk dalam kondisi belum kering sempurna.

Padahal, tambahan waktu pengeringan selama 2 hingga 3 hari dapat meningkatkan kualitas secara drastis. Sayangnya, desakan kebutuhan ekonomi membuat petani memilih "jalan pintas" dengan menjual lebih awal, meski hal ini justru merusak reputasi dan harga jual rumput laut Tarakan di pasar antar-daerah.

Solusi Melalui Jalur Perumda

Pemerintah Kota Tarakan kini tengah mengupayakan jalur penyelamatan melalui Perumda Agribisnis. Skema ini dirancang untuk memangkas peran tengkulak dan menghubungkan petani langsung ke pabrik besar.

Sebagai langkah awal, Pemkot telah berhasil memfasilitasi pengiriman beberapa kontainer rumput laut langsung ke PT BLG di Pinrang, Sulawesi Selatan. Jika kerja sama ini konsisten dilakukan dan ketergantungan petani pada tengkulak berhasil dikurangi, harapan untuk melihat petani Tarakan "naik kelas" bukan lagi sekadar wacana.

Bagikan
Sumber: Prokal

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks