TARAKAN — Angka penemuan kasus HIV di Kota Tarakan menunjukkan tren peningkatan, namun Dinkes menegaskan hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah warga yang mau diperiksa. Kepala Dinkes Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, menyebut peningkatan tersebut bukan semata-mata indikasi lonjakan penularan, melainkan efek dari meluasnya cakupan skrining.
"Ada peningkatan. Maksudnya peningkatan yang diperiksa dan pasti ada yang positif," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Dominasi LSL dan Pasien TB dalam Temuan Kasus
Sepanjang 2025, Dinkes Tarakan menargetkan 7.093 orang untuk menjalani tes HIV, namun realisasinya mencapai 7.314 orang atau 103,1 persen. Dari total pemeriksaan tersebut, ditemukan 64 kasus positif. Selain LSL yang mendominasi dengan 30 kasus, kelompok pasien Tuberkulosis (TB) menyumbang 17 kasus positif (26,6 persen), diikuti Wanita Penjaja Seks (WPS) sebanyak 7 kasus (10,9 persen), serta ibu hamil sebanyak 4 kasus.
Kelompok lain yang tercatat positif meliputi pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), waria, dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), masing-masing 2 kasus. Hingga Semester I 2026, dari 3.673 orang yang telah diperiksa, kembali ditemukan 30 kasus positif. Pola serupa masih terlihat: LSL mendominasi dengan 16 kasus dari 226 orang yang diperiksa, disusul pasien TB 9 kasus, WPS 3 kasus, dan ibu hamil 2 kasus.
Penolakan Jadi Kendala Utama Penjangkauan
dr. Devi mengakui bahwa peningkatan kasus HIV berkaitan dengan perilaku seksual berisiko, termasuk pada kelompok LGBT. Namun, ia menyebut proses deteksi di lapangan jauh dari mudah. Penolakan kerap datang dari individu yang akan diperiksa, bahkan dari tempat kerja yang dijadikan lokasi skrining, karena kekhawatiran status kesehatan mereka diketahui publik.
"Ada, ada peningkatan kasus. Cuma kami mendeteksi LGBT saat ini lebih sulit. Kalau kami mau masuk kadang-kadang orang pasti menolak kalau diperiksa," bebernya.
Untuk mengatasi hal ini, Dinkes menerapkan strategi pembagian lokasi berisiko tinggi ke sejumlah puskesmas. Dengan begitu, tidak ada satu puskesmas pun yang menanggung beban target pemeriksaan lebih berat dibanding lainnya. "Jadi puskesmas tidak melihat wilayahnya. Tempat-tempatnya kami bagi-bagi supaya tidak ada satu puskesmas yang lebih rendah daripada yang lain," jelasnya.
Usia Produktif Mendominasi, Penularan Didominasi Hubungan Seksual
Dari sisi demografi, kasus positif paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, khususnya mereka yang berusia 20 tahun ke atas. Sementara itu, penderita yang ditemukan masih didominasi laki-laki. dr. Devi menambahkan, penularan yang terjadi saat ini lebih banyak melalui hubungan seksual, sementara penularan akibat penggunaan jarum suntik tidak ditemukan dalam temuan terbaru.
Penemuan kasus tertinggi tercatat berasal dari Puskesmas Kampung 1/Karang Rejo, Puskesmas Juata Laut atau Juata Permai, Puskesmas Mamburungan, Puskesmas Gunung Lingkas, serta rumah sakit rujukan seperti RSUD Tarakan dan RSUKT.