Pasar kripto global masih bergerak di tempat meski tekanan makro mulai mereda. Data inflasi dan penjualan ritel Amerika Serikat yang lemah pekan lalu membuat dolar AS melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun, namun sentimen positif itu belum cukup untuk mengangkat harga aset kripto dari rentang perdagangannya yang sempit.
Bitcoin sempat menyentuh US$64.000 pada Senin (18/8) pagi waktu Asia, naik tipis 0,5% dari hari sebelumnya. Namun dalam tujuh hari terakhir, raja kripto ini masih mencatatkan koreksi hampir 3%, menunjukkan bahwa aksi jual pekan lalu belum sepenuhnya pulih.
HYPE Melawan Arus, Mayoritas Kripto Utama Masih Terkoreksi
Di tengah pasar yang suram, token HYPE milik Hyperliquid menjadi satu-satunya aset besar yang mencatatkan kenaikan mingguan signifikan. Token ini naik lebih dari 3% dalam sehari ke level US$59 dan menguat hampir 9% dalam sepekan—prestasi yang kontras dengan mayoritas kripto utama lainnya.
Ethereum hanya naik tipis 1% ke kisaran US$1.900, tetapi masih minus 1% secara mingguan. Sementara itu, Solana nyaris tidak bergerak di atas US$75 dan tercatat turun hampir 2% dalam tujuh hari. XRP stagnan di US$1 dengan koreksi mingguan 3%, dan Dogecoin menguat tipis ke US$0,07.
BNB menjadi satu-satunya yang relatif stabil, bertahan di level US$604 tanpa perubahan berarti dibandingkan pekan lalu.
Latar Makro Membaik, tapi Investor Kripto Masih Menahan Diri
Kondisi eksternal sebenarnya mulai bersahabat. Indeks dolar Bloomberg turun 0,1% dan berpotensi mencatat pelemahan tiga hari berturut-turut, sementara indeks mata uang pasar berkembang MSCI mencapai rekor intraday yang dipimpin penguatan dolar Taiwan dan baht Thailand.
Data penjualan ritel AS Jumat lalu juga menunjukkan penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari setahun, mendorong pelaku pasar memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan depan menjadi sekitar 25%, turun drastis dari 50% sepekan sebelumnya. Imbal hasil Treasury ikut turun di seluruh kurva.
Namun, pasar kripto seolah kebal terhadap kabar baik ini. Nick Ruck, direktur LVRG Research, mengatakan kepada CoinDesk bahwa pasar masih terjebak di dekat level US$63.000 dengan aliran dana masuk exchange-traded fund (ETF) yang meredup—tanda kurangnya optimisme setelah aksi jual pekan lalu.
Dua Katalis Utama yang Dinanti Pekan Ini
Para pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada dua agenda penting yang bisa menentukan arah pergerakan selanjutnya. Pertama, rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (20/8) pukul 14.00 waktu Timur AS, yang akan mengungkap seberapa dekat komite tersebut dengan keputusan menaikkan suku bunga sebelum data pekan lalu mengubah ekspektasi.
Kedua, pertemuan kripto yang direncanakan di Gedung Putih. "Katalis kunci yang perlu diperhatikan pekan ini termasuk rilis notulen FOMC dan perkembangan apa pun dari pertemuan kripto Gedung Putih yang diantisipasi, keduanya bisa memberikan sinyal yang lebih jelas tentang lanskap regulasi dan kebijakan moneter," ujar Ruck.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin yang masih betah di kisaran US$63.000–US$64.000 ini menandakan pasar sedang menunggu kepastian kebijakan. Tanpa katalis baru, volatilitas jangka pendek kemungkinan tetap rendah, namun risiko pergerakan tajam tetap mengintai begitu notulen Fed atau kabar dari Gedung Putih keluar.