Pencarian

Omzet Pedagang Telur di Pasar Gusher Tarakan Terpuruk, Penjualan Anjlok dari 150 menjadi 50 Piring Sehari

Jumat, 04 September 2026 • 14:02:02 WIB
Omzet Pedagang Telur di Pasar Gusher Tarakan Terpuruk, Penjualan Anjlok dari 150 menjadi 50 Piring Sehari
Omzet pedagang telur di Pasar Gusher Tarakan anjlok dari Rp5 juta menjadi Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari akibat daya beli masyarakat yang menurun.

TARAKAN — Ahmad Yani baru saja membuang beberapa piring telur yang sudah berbau busuk dari lapaknya. Bukan karena stok menumpuk tanpa pembeli, melainkan karena perputaran uang di masyarakat yang tak kunjung pulih membuat komoditas kebutuhan pokok ini tak lagi laku secepat dulu.

Pria yang telah 10 tahun berjualan telur di Pasar Gusher ini mengaku omzetnya kini hanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari. Padahal, saat pasar sedang sepi sekalipun sebelum pandemi, ia masih bisa membawa pulang Rp5 juta sehari.

Penjualan dari 150 ke 50 Piring: Daya Beli yang Merosot

Lelaki yang akrab disapa Ahmad ini menuturkan, puncak penjualannya terjadi sebelum COVID-19 melanda. Kala itu, telur yang ia jajakan mampu habis hingga 150 piring dalam sehari. Kini, di tengah hiruk-pikuk Pasar Gusher, dagangannya hanya laku sekitar 50 piring per hari.

"Dulu bisa sampai 150 piring sehari. Sekarang paling sekitar 50 piring," ujarnya kepada Benuanta, Jumat (13/9/2025).

Ia menjelaskan, penurunan volume penjualan ini terjadi drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, saat harga telur sempat turun tajam, jumlah pembeli bukannya bertambah, malah ikut menyusut.

"Telur jatuh, pembeli juga jatuh. Sampai banyak yang busuk-busuk, telur dibuang," ungkapnya.

Telur Busuk dan Modal Tak Kembali: Dilema Pedagang

Lambatnya perputaran barang menjadi persoalan serius bagi pedagang seperti Ahmad. Pasalnya, telur merupakan komoditas dengan batas kualitas yang ketat. Jika tersimpan lebih dari satu minggu, kualitasnya mulai menurun dan tak layak jual.

Ahmad mengaku harus menanggung kerugian ganda. Di satu sisi, modal tidak kembali karena stok tak terserap pasar. Di sisi lain, ia harus mengeluarkan biaya untuk membuang telur-telur yang telah rusak.

"Sudah tidak kembali modal. Yang masih bisa dimakan saya kasih orang. Yang sudah hitam betul, yang bau, kalau dikasih orang pun buang di tempat sampah," tuturnya.

Kini, harga telur ukuran sedang di lapaknya berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp57 ribu per piring, sementara ukuran besar dibanderol sekitar Rp60 ribu per piring. Meski harga mulai merangkak naik, Ahmad menilai angka tersebut masih tergolong terjangkau.

Kecewa pada Ekonomi: Pasar Sepi, Indikator Rakyat Tak Punya Uang

Bagi Ahmad, ramai atau sepinya Pasar Gusher bukan sekadar soal aktivitas jual beli. Ia melihatnya sebagai indikator sederhana kekuatan ekonomi warga di tingkat bawah.

"Ya bagaimana bisa orang rakyat-rakyat semuanya dapat uang, ya bisa belanja juga," terangnya.

Ia berharap kondisi ekonomi masyarakat dapat segera membaik agar aktivitas perdagangan kembali bergerak. Sebab, kestabilan harga komoditas saja tak cukup untuk membuat pedagang bertahan jika tak diiringi peningkatan transaksi harian.

"Pokoknya kecewa lah, kecewa sama ekonomi," pungkasnya.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: benuanta.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks