Investasi Kalimantan Utara Tembus Rp11 Triliun, Pemprov Dorong Realisasi Jalur Kereta Api Logistik untuk Tambang dan Sawit

Penulis: Dedi Supriadi  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 13:17:01 WIB
Gubernur Kaltara Zainal A. Paliwang membuka FGD pembangunan jalur kereta api logistik di Tanjung Selor.

TANJUNG SELOR — Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, menyebutkan bahwa realisasi investasi yang tembus Rp11 triliun pada awal 2026 menjadi modal untuk mendorong proyek infrastruktur strategis. Ia membuka Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Infrastruktur Strategis Jaringan Kereta Api di Aula Kantor Gubernur Kaltara, Kamis (11/6).

Forum ini merupakan tindak lanjut dari audiensi sebelumnya dengan PT Indonesia Transit Synergy (INTRA). Gubernur menekankan bahwa pembangunan jalur kereta api logistik bukan sekadar proyek transportasi, melainkan solusi untuk menekan biaya distribusi komoditas utama daerah.

Biaya Angkut Tambang dan Sawit Bisa Lebih Murah

Menurut Zainal, moda kereta api akan menjadi tulang punggung logistik bagi pengusaha tambang dan perkebunan kelapa sawit di Kaltara. “Bagi pengusaha tambang maupun kelapa sawit nantinya dapat memanfaatkan kereta api ini sehingga biaya angkut menjadi lebih murah menuju kawasan industri maupun pelabuhan,” ujarnya.

Jalur rel direncanakan menghubungkan kawasan produksi di empat kabupaten: Bulungan, Tana Tidung, Malinau, dan Nunukan. Dengan konektivitas ini, distribusi hasil bumi dari pedalaman ke pelabuhan ekspor diharapkan lebih efisien.

Mengurangi Beban Jalan Umum Akibat Truk Tambang

Pemerintah provinsi juga menyoroti dampak positif lain dari proyek ini. Moda transportasi berbasis rel dinilai mampu mengurangi beban lalu lintas dan kerusakan jalan umum yang selama ini terjadi akibat mobilitas angkutan barang berkapasitas besar.

Kerusakan jalan akibat truk pengangkut batu bara dan sawit menjadi keluhan klasik di sejumlah ruas jalan di Kaltara. Kehadiran kereta api logistik diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk masalah infrastruktur tersebut.

FGD Cari Kesepahaman dengan Calon Pengguna Jasa

Gubernur Zainal berharap FGD ini dapat menghasilkan kesepahaman awal antara PT INTRA dengan perusahaan-perusahaan yang akan menjadi pengguna jasa atau off-taker. “Semoga pertemuan ini membuka peluang kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi semua pihak,” katanya.

Forum tersebut menjadi ajang bagi pemerintah, investor, dan pelaku usaha untuk menyelaraskan kepentingan sebelum proyek fisik dimulai. Kejelasan soal off-taker menjadi kunci kelayakan investasi infrastruktur kereta api di daerah.

Rel Tidak Hanya untuk Barang, tetapi Juga Penumpang

Dalam kesempatan yang sama, Zainal menyampaikan harapan agar pembangunan jaringan kereta api tidak berhenti pada distribusi komoditas. Ia ingin moda ini kelak berkembang menjadi transportasi penumpang yang menghubungkan wilayah Kalimantan hingga ke negara tetangga.

“Mudah-mudahan nanti ada rel kereta api untuk barang dan rel kereta api untuk penumpang. Kami juga sudah menjalin komunikasi dengan Brunei terkait rencana jalur kereta api Kalimantan, Malaysia, dan Brunei,” tutupnya.

Rencana ini sejalan dengan visi konektivitas regional yang melibatkan Malaysia dan Brunei. Jika terealisasi, jalur kereta api Kaltara bisa menjadi gerbang logistik dan mobilitas di kawasan perbatasan utara Pulau Kalimantan.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: fokusborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top