KALIMANTAN UTARA — Rapat pembahasan usulan tambahan anggaran Kementerian Perindustrian untuk Tahun Anggaran 2027 menjadi panggung bagi Tifatul Sembiring untuk kembali mengingatkan potensi besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Isu hilirisasi sumber daya alam, khususnya nikel, menjadi benang merah dalam diskusi tersebut. Tifatul menilai, selama ini hilirisasi baru berhenti pada pengolahan bahan baku, belum sampai pada produk jadi yang bernilai tambah tinggi.
Tifatul menekankan bahwa mobil listrik hanya memiliki dua komponen utama: baterai dan motor listrik. Nikel, yang menjadi bahan baku krusial dalam pembuatan baterai berkapasitas tinggi, justru melimpah di Indonesia. Ironisnya, negara ini belum memiliki satu pun merek mobil listrik nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
"Orang-orang bertanya, Indonesia adalah penghasil nikel terbesar di dunia, tetapi Indonesia belum memiliki industri EV nasional. Padahal secara prinsip bahan bakunya ada dan kita memiliki kemampuan untuk mengembangkannya," ujar Tifatul dalam rapat tersebut.
Usulan tambahan anggaran sebesar Rp1,592 triliun yang diajukan Kementerian Perindustrian dinilai Tifatul harus tepat sasaran. Ia meminta agar dana tersebut tidak hanya digunakan untuk program rutin, melainkan dialokasikan secara strategis untuk mendorong lahirnya ekosistem kendaraan listrik nasional. Menurutnya, realisasi anggaran menjadi kunci untuk menggerakkan sektor-sektor di bawahnya.
"Budget di negara manapun adalah trigger terhadap perolehan PDB. Kalau itu tidak dijalankan dan tidak diturunkan, sektor-sektor di bawahnya juga tidak akan berkembang," tegasnya.
Bagi Tifatul, hakikat industri adalah hilirisasi yang menghasilkan barang siap pakai. Ia mengkritik kebijakan yang selama ini lebih fokus pada pembangunan smelter tanpa diikuti pengembangan industri manufaktur hilir. Dengan cadangan nikel yang besar, Indonesia dinilai memiliki peluang membangun rantai pasok mobil listrik dari pertambangan hingga perakitan kendaraan.
"Hakikat industri itu adalah hilirisasi, dari raw material dijadikan suatu barang yang bisa digunakan langsung oleh masyarakat. Itu hilirisasi," jelas politisi tersebut.
Dorongan ini menjadi sinyal kuat bagi Kementerian Perindustrian untuk segera merumuskan peta jalan yang lebih konkret. Jika terealisasi, Indonesia tidak hanya akan menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global.