TANJUNG SELOR — Kebutuhan telur ayam di Kalimantan Utara (Kaltara) mencapai 4,8 ton per hari atau 1.728 ton per tahun. Angka ini dinilai sebagai peluang besar untuk menggerakkan ekonomi lokal. Sayangnya, sebagian besar pasokan komoditas tersebut masih didatangkan dari luar daerah.
Celah itu coba ditutup melalui gagasan pengembangan 100.000 ayam petelur. Jufri Budiman, yang juga Ketua Tani Merdeka Indonesia Kaltara, menawarkan konsep pembentukan 10 sentra peternakan dengan masing-masing populasi 10.000 ekor. Dengan tingkat produktivitas 80–90 persen, produksi telur diperkirakan menembus 90.000 butir per hari pada kondisi puncak.
Jufri menegaskan, pembangunan kandang saja tidak cukup. Rantai produksi harus terintegrasi dari hulu, mulai dari ketersediaan bibit (pullet), pakan berbasis jagung lokal, vaksin, hingga tenaga teknis dan kepastian pasar.
"Dengan skema 10 sentra yang masing-masing memiliki 10.000 ayam petelur, total populasi dapat mencapai 100.000 ekor. Dengan tingkat produktivitas sekitar 80–90 persen, produksi telur secara kasar dapat mencapai puluhan ribu hingga sekitar 90.000 butir per hari ketika produktivitas berada pada level 90 persen," ungkapnya, Kamis (27/8/2026).
Rantai ekonomi yang digambarkan menghubungkan petani jagung, pengolahan pakan, peternak ayam petelur, hingga koperasi dan distributor. Pola ini diharapkan mampu memutar belanja masyarakat yang selama ini mengalir keluar daerah untuk kembali menggerakkan ekonomi Kaltara.
Selain skema sentra besar, DPRD Kaltara melempar gagasan "1 Desa 1 Sentra Telur" bagi desa yang memenuhi persyaratan infrastruktur. Kriteria yang disyaratkan meliputi ketersediaan lahan, air, listrik, akses jalan, serta kelompok masyarakat yang siap mengelola.
"Program tersebut disarankan dimulai melalui 3–5 desa sebagai pilot project, sebelum diperluas ke 10, 20 hingga 50 desa apabila menunjukkan hasil yang baik," jelas Jufri.
Upaya penguatan pangan di Kaltara tidak lepas dari sektor pertanian. Pada 2025, luas panen padi diperkirakan mencapai 10.003 hektare, meningkat 20,77 persen dibandingkan 2024. Produksi gabah kering panen (GKP) diproyeksikan sekitar 45.805 ton, dengan produksi beras untuk konsumsi mencapai 21.818 ton atau naik 22,35 persen.
Namun, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Biaya distribusi antarkabupaten yang tinggi, keterbatasan irigasi, serta akses petani terhadap pupuk dan pembiayaan menjadi catatan yang belum tuntas. Perubahan iklim dan mahalnya biaya transportasi turut menekan margin petani.
Konsep "Kaltara Lumbung Pangan" sendiri tidak hanya berfokus pada padi dan beras, tetapi juga jagung, peternakan, telur, perikanan, hingga hortikultura. Target akhirnya bukan sekadar Kaltara mampu menghasilkan pangan, melainkan pangan tersebut diproduksi, diolah, diperdagangkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat Kaltara sendiri.