KALIMANTAN UTARA — Rencana besar pemerintah untuk menggenjot sektor pariwisata mulai menemukan bentuknya. Kemenpar dan BPI Danantara resmi menjalin sinergi untuk mengembangkan destinasi wisata yang terintegrasi dengan investasi dan infrastruktur. Bukan cuma soal membangun hotel atau atraksi baru, kolaborasi ini menyasar kebutuhan mendasar industri: lapangan kerja baru dan perputaran ekonomi yang menjangkau hingga ke daerah.
Juru Bicara Kemenpar, Imam Priyono, mengungkapkan bahwa cakupan kerja sama ini luas, mulai dari pengembangan destinasi dan infrastruktur, investasi dan industri pariwisata, peningkatan kapasitas SDM, hingga pengembangan produk wisata minat khusus. Pertukaran data dan penguatan pemasaran juga masuk dalam daftar agenda.
Destinasi Prioritas dan Skema Investasi yang Masih Dimatangkan
Pertanyaan besarnya, destinasi mana yang akan disentuh lebih dulu? Imam menegaskan bahwa proses pemetaan akan dilakukan secara terukur. Kesiapan lokasi, kelayakan proyek, dan potensi dampak ekonomi menjadi pertimbangan utama sebelum sebuah destinasi diumumkan sebagai prioritas investasi.
"Namun seperti apa skema kerjanya, saat ini masih dalam diskusi," kata Imam kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Yang jelas, Kemenpar akan memastikan kebutuhan pengembangan pariwisata bisa terhubung langsung dengan peluang investasi yang dimiliki Danantara. Sementara itu, Danantara berperan strategis dalam mendukung pengembangan aset, infrastruktur, dan ekosistem investasi secara menyeluruh.
Bundling Penerbangan dan Hotel: Upaya Menekan Harga Tiket?
Selain bicara soal infrastruktur besar, sinergi ini juga menyentuh sisi praktis yang dirasakan langsung wisatawan: biaya perjalanan. Kemenpar tengah mendorong kolaborasi antar pelaku industri untuk menciptakan paket wisata yang lebih terintegrasi.
Langkah konkretnya, telah diinisiasi pertemuan antara Garuda Indonesia dengan GIPI, PHRI, serta sejumlah jaringan hotel seperti Artotel Group, Wyndham Hotels, Archipelago Hotels, Ascott Indonesia, El Royale Hotels, dan Jambuluwuk Hotels. Salah satu poin yang dibahas adalah pemanfaatan program loyalitas GarudaMiles dalam industri akomodasi lewat skema bundling produk penerbangan dan hotel.
Jika terealisasi, traveler bisa mendapatkan paket tiket pesawat plus hotel dengan harga yang lebih kompetitif. Ini menjadi kabar baik di tengah tingginya biaya transportasi domestik yang kerap menjadi penghambat utama perjalanan wisata.
Aset BUMN Jadi Modal, Ekonomi Daerah Jadi Target
Kolaborasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026. Pemerintah siap mempermudah kerja sama pemanfaatan aset BUMN yang belum optimal dengan pihak swasta, melalui proses yang terbuka, kompetitif, dan akuntabel, namun tetap menjaga kepemilikan strategis negara.
Aset negara berupa tanah, gedung, jaringan, kawasan, hingga fasilitas yang belum dikelola maksimal tidak akan dibiarkan menganggur. Aset-aset tersebut harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan mendukung perekonomian yang membutuhkan investasi.
Melalui nota kesepahaman yang ditandatangani Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, pengembangan pariwisata diarahkan tidak hanya fokus pada destinasi. Pariwisata harus ditopang oleh investasi, infrastruktur, produk, SDM, dan pemasaran yang terintegrasi.
Bagi wisatawan, kolaborasi ini adalah sinyal positif bahwa pemerintah serius membereskan ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir. Meski dampaknya mungkin belum terasa dalam waktu dekat, fondasi untuk destinasi yang lebih berkualitas dan terjangkau sedang dibangun. Untuk informasi terkini mengenai destinasi prioritas dan paket wisata baru, pantau terus pengumuman resmi dari Kemenpar dan Danantara.