Meta Rilis Muse, Agen AI yang Bisa Kirim Email dan Pesan Tiket

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Rabu, 09 September 2026 | 15:04:31 WIB
Meta meluncurkan Muse, agen kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengeksekusi tugas secara end-to-end di Amerika Serikat.

KALIMANTAN UTARA — Meta mempertegas ambisinya di industri kecerdasan buatan dengan meluncurkan Muse, sebuah agen AI yang berfokus pada penyelesaian pekerjaan konkret. Berbeda dari chatbot konvensional yang hanya merespons prompt, Muse dirancang untuk bertindak layaknya asisten pribadi yang bisa mengeksekusi tugas secara end-to-end. Layanan ini mulai dipasarkan di Amerika Serikat dan akan terintegrasi dengan ekosistem aplikasi milik Meta serta layanan pihak ketiga populer.

Kemampuan Inti Muse: Dari Browser hingga Transaksi

Muse diklaim mampu menangani pekerjaan kompleks yang membutuhkan banyak langkah. Pengguna bisa meminta saran rencana perjalanan, dan agen ini akan membuka browser sendiri, mengisi formulir, hingga menyelesaikan proses secara otomatis.

Untuk tugas yang melibatkan data sensitif, Muse wajib terhubung dan mendapatkan persetujuan pengguna terlebih dahulu. Tindakan seperti mengirim email atau melakukan pembelian tetap memerlukan konfirmasi manual sebelum dieksekusi.

Pengguna juga punya kendali penuh untuk menentukan aplikasi mana saja yang boleh diakses Muse. Sejumlah layanan sudah terintegrasi secara bawaan, termasuk Instagram, Facebook, Gmail, Google Calendar, dan Shopify.

Muse Spark: Otak di Balik Kemampuan Agentic AI

Kemampuan eksekusi tugas tersebut ditopang oleh model AI bernama Muse Spark. Model ini pertama kali diperkenalkan Meta pada awal September lalu dan dirancang untuk menangani pekerjaan berdurasi panjang, menggunakan berbagai tools, serta membuat konteks sendiri dari sumber berbeda.

Keunggulan lain Muse Spark adalah kemampuannya memperbaiki rencana ketika menemukan informasi yang kurang atau bertentangan di tengah proses.

Jaminan Keamanan dengan Mesin Virtual Khusus

Akses ke berbagai aplikasi dan data pengguna memunculkan kekhawatiran soal privasi. Meta menjawabnya dengan menghadirkan sistem bernama Muse Secure VM. Setiap sesi Muse berjalan di mesin virtual khusus di cloud yang menjadi tempat penyimpanan AI, data pengguna, dan kredensial layanan yang terhubung.

Meta juga menempatkan agen pengawas bernama Sentinel pada sistem tersebut. Sentinel bertugas memastikan koneksi ke internet hanya dilakukan setelah mendapatkan persetujuan yang diperlukan, sehingga tindakan yang dilakukan Muse tetap dalam koridor yang diizinkan pengguna.

Fitur Memori dan Personalisasi Konteks

Muse punya kemampuan mengingat hal-hal penting bagi pengguna. Meta memberi contoh ketika pengguna menyimpan resep dari Instagram, Muse bisa mengubahnya menjadi daftar belanja.

Pada skenario lain, agen ini dapat mempertimbangkan preferensi makanan teman pengguna ketika membantu menyiapkan undangan pesta. Personalisasi konteks ini membedakan Muse dari asisten AI generik yang hanya mengandalkan input langsung.

Ketersediaan dan Model Bisnis

Untuk tahap awal, Muse dapat diakses melalui aplikasi khusus di iOS dan Android serta melalui WhatsApp. Meta berencana menghadirkan kemampuan ini ke perangkat AI glasses perusahaan di masa mendatang.

Layanan ini akan tersedia gratis untuk sebagian besar kebutuhan. Pengguna yang membutuhkan kapabilitas lebih tinggi dapat beralih ke paket berlangganan berbayar. Belum ada informasi resmi mengenai jadwal perluasan pasar ke Indonesia. Namun, integrasi dengan WhatsApp yang masif digunakan di Tanah Air membuka peluang adopsi yang lebih cepat jika layanan ini resmi meluncur secara global.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: jagatreview.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top