KALIMANTAN UTARA — Presiden FFF Philippe Diallo menyatakan ketertarikan Prancis untuk kembali menggelar Piala Dunia setelah terakhir kali menjadi tuan rumah pada 1998. Ketika itu, Prancis keluar sebagai juara. Empat dekade berselang, Negeri Fesyen itu ingin mengulang peran sebagai tuan rumah.
Namun, gagasan ini belum final. FFF masih harus membicarakannya dengan banyak pihak, terutama pemerintah, terkait kesiapan infrastruktur, khususnya stadion.
Jumlah peserta Piala Dunia yang kini mencapai 48 tim menjadi pertimbangan utama. Kondisi ini dinilai membuat satu negara tidak lagi memadai untuk menjadi tuan rumah tunggal.
"Ketika tim peserta sudah 48, kami tidak bisa lagi menggelarnya sendirian. Lihat saja Amerika Serikat. Jerman yang jaraknya dekat jadi partner paling masuk akal," ujar Diallo seperti dikutip Tribuna.
Niatan Prancis berpeluang gagal terwujud karena aturan rotasi konfederasi yang diberlakukan FIFA. Setiap konfederasi yang negaranya baru saja menjadi tuan rumah harus menunggu dua edisi Piala Dunia sebelum ikut host bidding.
Spanyol dan Portugal akan menjadi tuan rumah bersama Maroko pada Piala Dunia 2030. Artinya, jatah Eropa paling cepat didapat pada 2042.
Untuk edisi 2034, Arab Saudi mengambil jatah Asia sebagai tuan rumah. Amerika Utara dan Oseania akan kebagian jatah empat tahun setelahnya.
Salah satu petinggi Federasi Sepakbola Jerman (DFB), Axel Hellmann, dalam wawancara beberapa waktu lalu menyebut masih ada peluang untuk menjadi tuan rumah. Menurutnya, situasinya tidak biasa sehingga aturan rotasi bisa saja tidak berlaku kaku.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari FIFA terkait tuan rumah Piala Dunia 2038. Pembicaraan antara FFF dan pemerintah Prancis soal kesiapan infrastruktur juga masih berjalan.