Pencarian

Ekonomi Digital Sumbang 15 Persen PDB Dunia, Setara USD 16 Triliun

Selasa, 15 September 2026 • 10:19:31 WIB
Ekonomi Digital Sumbang 15 Persen PDB Dunia, Setara USD 16 Triliun
Ekonomi digital menyumbang 15 persen PDB dunia atau setara USD 16 triliun.

KALIMANTAN UTARA — Angka Bank Dunia itu menegaskan satu hal: hampir seperenam roda perekonomian global kini digerakkan aktivitas berbasis teknologi. Di Indonesia, studi menunjukkan lebih dari 90 persen pembelian online dilakukan melalui smartphone.

Istilah ekonomi digital sendiri bukan barang baru. Don Tapscott mempopulerkannya lewat buku The Digital Economy pada 1995, dan maknanya terus meluas seiring kemajuan teknologi.

Apa Itu Ekonomi Digital

Secara sederhana, ekonomi digital adalah seluruh kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi barang dan jasa, yang menjadikan teknologi digital sebagai elemen kuncinya.

Teknologi yang dimaksud bukan sekadar internet. Cakupannya meliputi kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, komputasi awan, media sosial, sampai perangkat mobile.

OECD menilai digitalisasi telah mengubah ekonomi secara mendasar, baik dari cara orang mengonsumsi barang dan jasa, alat serta input yang dipakai produsen, maupun cara produsen berinteraksi dengan konsumen. Dampaknya begitu besar sehingga sering sulit dipotret utuh oleh indikator tradisional seperti PDB.

Merujuk Bureau of Economic Analysis, ekonomi digital dapat dimaknai sebagai barang dan jasa yang menjadi dasar atau memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta jaringan komputer untuk memudahkan produksi dan konsumsi.

Ciri-Ciri yang Membedakannya dari Ekonomi Konvensional

Dalam buku The Digital Economy, Tapscott merumuskan belasan karakteristik yang menandai pergeseran menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Beberapa yang paling relevan dengan kondisi saat ini:

  • Berbasis pengetahuan (knowledge), nilai tercipta dari data, ide, dan keahlian, bukan hanya barang fisik.
  • Serba digital (digitization), informasi diubah menjadi format digital yang mudah disimpan dan dipindahkan.
  • Serba virtual (virtualization), toko, kantor, hingga kelas bisa berpindah ke ruang daring.
  • Terintegrasi dan saling terhubung (internetworking) lewat jaringan internet yang menyatukan banyak perangkat.
  • Tanpa perantara (disintermediation), produsen bisa langsung menjangkau konsumen.
  • Konvergensi (convergence), komputasi, komunikasi, dan konten menyatu dalam satu perangkat.
  • Penuh inovasi (innovation), dengan model bisnis dan produk baru yang muncul cepat.
  • Produsen sekaligus konsumen (prosumption), misalnya pengguna yang membuat konten sekaligus menikmatinya.
  • Serba seketika (immediacy), transaksi dan layanan berlangsung dalam hitungan detik.
  • Mendunia (globalization), pasar tidak lagi dibatasi wilayah negara.

Contoh Penerapan di Indonesia

Contoh ekonomi digital ada di sekitar pengguna setiap hari. Berikut bentuk penerapannya yang paling umum di pasar Indonesia:

  • E-commerce, seperti Tokopedia, Shopee, TikTok Shop, Blibli, dan Lazada untuk jual beli barang secara daring.
  • Fintech dan dompet digital, misalnya GoPay dan DANA untuk pembayaran nontunai.
  • Transportasi online dan layanan on-demand, seperti Gojek dan Grab untuk mobilitas, pengiriman makanan, dan barang.
  • Layanan streaming, seperti Netflix, Spotify, dan YouTube untuk konsumsi konten hiburan.

Pola yang sama menjelaskan mengapa seorang perajin di desa bisa menjual produk ke luar kota bahkan luar negeri. Platform mempertemukan penjual dan pembeli tanpa batas geografis, dan inilah alasan efisiensi serta perluasan pasar menjadi tujuan utama ekonomi digital.

Manfaat dan Tantangan

Bagi pelaku usaha, ekonomi digital membuka akses pasar yang sebelumnya tertutup oleh keterbatasan fisik. Bagi konsumen, pilihan barang dan jasa jadi jauh lebih luas dengan harga yang bisa dibandingkan langsung.

Namun ada tantangan yang menyertai. Ketergantungan pada infrastruktur internet, kesenjangan literasi digital antarwilayah, hingga perlindungan data pribadi menjadi isu yang belum sepenuhnya selesai di Indonesia.

Bagi investor dan pelaku bisnis digital, pemahaman atas ciri-ciri ekonomi digital bukan sekadar wawasan akademis. Karakteristik seperti skalabilitas, disintermediasi, dan imediasi menentukan model bisnis mana yang bisa tumbuh cepat dan mana yang akan tergerus.

Data Bank Dunia soal kontribusi 15 persen terhadap PDB global memberi gambaran skala. Yang belum tergambar penuh adalah bagaimana porsi itu akan bergeser dalam beberapa tahun ke depan, seiring AI dan otomatisasi masuk ke lebih banyak lini usaha.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks