KALIMANTAN UTARA — Angka Bank Dunia itu menegaskan satu hal: hampir seperenam roda perekonomian global kini digerakkan aktivitas berbasis teknologi. Di Indonesia, studi menunjukkan lebih dari 90 persen pembelian online dilakukan melalui smartphone.
Istilah ekonomi digital sendiri bukan barang baru. Don Tapscott mempopulerkannya lewat buku The Digital Economy pada 1995, dan maknanya terus meluas seiring kemajuan teknologi.
Secara sederhana, ekonomi digital adalah seluruh kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi barang dan jasa, yang menjadikan teknologi digital sebagai elemen kuncinya.
Teknologi yang dimaksud bukan sekadar internet. Cakupannya meliputi kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, komputasi awan, media sosial, sampai perangkat mobile.
OECD menilai digitalisasi telah mengubah ekonomi secara mendasar, baik dari cara orang mengonsumsi barang dan jasa, alat serta input yang dipakai produsen, maupun cara produsen berinteraksi dengan konsumen. Dampaknya begitu besar sehingga sering sulit dipotret utuh oleh indikator tradisional seperti PDB.
Merujuk Bureau of Economic Analysis, ekonomi digital dapat dimaknai sebagai barang dan jasa yang menjadi dasar atau memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta jaringan komputer untuk memudahkan produksi dan konsumsi.
Dalam buku The Digital Economy, Tapscott merumuskan belasan karakteristik yang menandai pergeseran menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Beberapa yang paling relevan dengan kondisi saat ini:
Contoh ekonomi digital ada di sekitar pengguna setiap hari. Berikut bentuk penerapannya yang paling umum di pasar Indonesia:
Pola yang sama menjelaskan mengapa seorang perajin di desa bisa menjual produk ke luar kota bahkan luar negeri. Platform mempertemukan penjual dan pembeli tanpa batas geografis, dan inilah alasan efisiensi serta perluasan pasar menjadi tujuan utama ekonomi digital.
Bagi pelaku usaha, ekonomi digital membuka akses pasar yang sebelumnya tertutup oleh keterbatasan fisik. Bagi konsumen, pilihan barang dan jasa jadi jauh lebih luas dengan harga yang bisa dibandingkan langsung.
Namun ada tantangan yang menyertai. Ketergantungan pada infrastruktur internet, kesenjangan literasi digital antarwilayah, hingga perlindungan data pribadi menjadi isu yang belum sepenuhnya selesai di Indonesia.
Bagi investor dan pelaku bisnis digital, pemahaman atas ciri-ciri ekonomi digital bukan sekadar wawasan akademis. Karakteristik seperti skalabilitas, disintermediasi, dan imediasi menentukan model bisnis mana yang bisa tumbuh cepat dan mana yang akan tergerus.
Data Bank Dunia soal kontribusi 15 persen terhadap PDB global memberi gambaran skala. Yang belum tergambar penuh adalah bagaimana porsi itu akan bergeser dalam beberapa tahun ke depan, seiring AI dan otomatisasi masuk ke lebih banyak lini usaha.