KALIMANTAN UTARA — Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta menggelar konser mini bertajuk "Satu Nusa Satu Nada" di Teras Plaza Malioboro pada Minggu (25/10/2026) untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026. Acara ini menggabungkan aransemen ulang lagu-lagu daerah dengan pembacaan kisah di balik setiap lagu, melibatkan para pemuda sebagai kolaborator. Konser digelar di ruang publik terbuka sebagai pernyataan bahwa selebrasi kebudayaan tak butuh panggung megah.
Alih-alih sekadar pertunjukan musik, konser dirancang sebagai ruang temu lintas generasi. Penonton diajak menikmati aransemen ulang lagu-lagu daerah yang diselingi pembacaan kisah dan makna di balik tiap lagu yang dibawakan.
Pemilihan lokasi bukan tanpa perhitungan. Bagi Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta, Malioboro adalah "Sumpah Pemuda yang Hidup" karena setiap hari menyatukan berbagai latar belakang dalam satu ruang tanpa sekat.
"Jika Sumpah Pemuda 1928 menyatukan nusa, bangsa, dan bahasa di sebuah gedung, maka Malioboro setiap hari menyatukan itu semua di jalan. Di sini, orang Jawa, Tionghoa, Arab, pedagang, mahasiswa, wisatawan, musisi jalanan, semua bertemu tanpa sekat. Malioboro adalah bukti nyata bahwa persatuan itu bukan teks sejarah, tapi praktik," papar Tinuk.
Lokasi yang ramai dan terbuka sekaligus menjadi pernyataan bahwa selebrasi kebudayaan tidak memerlukan tempat megah. Satu nada di ruang publik dinilai cukup untuk menyampaikan pesan persatuan kepada siapa saja yang lewat dan mendengarkan.
Sorotan lain acara ini adalah kehadiran peserta dan penampil yang mengenakan beragam busana adat Nusantara. Mulai dari Ulos, Baju Bodo, Baju Papua, hingga Baju Dayak tampil dalam satu panggung yang sama.
"Sumpah Pemuda adalah janji tentang identitas. Pakaian adalah identitas yang terlihat. Bahasa bisa diucapkan, tapi pakaian adat adalah cara memperlihatkan Satu Nusa itu. Tanpa perlu diterangkan pun, orang sudah bisa melihat: itulah yang dimaksud dengan Satu Nusa," kata Tinuk.
Pendiri sekaligus Koordinator Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta, M. Tinuk S, menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya soal mengulang teks sejarah. Menurutnya, semangat persatuan harus dihidupkan kembali di tengah keberagaman bangsa.
"Untuk merawat ingatan, bukan sekadar merayakan. Lewat musik, kami ingin mengembalikan getaran semangat 1928, bukan sekadar menghafal teksnya. Bahasa menyatukan lewat arti. Musik menyatukan lewat rasa," demikian disampaikan Tinuk.
Acara ini diharapkan memperkuat rasa kebersamaan antar-generasi. Keberagaman budaya yang ditampilkan lewat musik dan busana adat ditegaskan sebagai kekuatan terbesar bangsa, bukan sekadar simbol seremonial tahunan.