KALIMANTAN UTARA — Telkomsel memakai kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan performa jaringan 5G bagi konten kreator dan streamer, dengan tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Optimalisasi ini menyasar lima metrik kunci jaringan agar aktivitas produksi konten harian berjalan lebih efisien. Bagi kreator, koneksi stabil bukan lagi kemewahan, melainkan syarat kerja utama.
Koneksi internet cepat dan stabil kini menjadi kebutuhan vital bagi pekerja industri kreatif digital, terutama Generasi Z yang aktivitasnya menuntut respons jaringan tinggi. Telkomsel merespons kebutuhan itu dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan performa jaringan 5G, ditopang tambahan spektrum frekuensi baru di 700 MHz dan 2,6 GHz.
Mengapa Kreator Butuh Jaringan Stabil
Konten kreator Oza Rangkuti menilai kestabilan jaringan sangat krusial untuk menunjang aktivitas digital harian Gen Z yang sangat tinggi. Menurutnya, koneksi yang lambat atau terputus memicu frustrasi karena kebutuhan mereka terhadap internet tergolong besar.
"Tentunya koneksi yang stabil dan yang cepat itu memang penting sekali, terutama kepada para user-user yang berasal dari Generasi Z mungkin memang butuh koneksi yang sangat stabil sekali, karena kebutuhan mereka tinggi dan kayak mereka secara mental udah tidak stabil," ujar Oza.
Kendala Kirim Berkas Video dan Efisiensi AI
Dalam proses produksi konten harian, Oza mengungkapkan kendala utama yang sering dihadapi kreator adalah pengiriman berkas video berukuran besar. Jaringan yang tidak stabil kerap memperlama proses kerja hingga menghambat produksi.
Integrasi teknologi AI dan jaringan Telkomsel 5G disebutnya memberi dampak efisiensi signifikan. "Proses yang tadinya perlu beberapa jam bisa beres dengan lima menit," kata Oza.
AI juga mempermudah pembuatan subtitle yang sebelumnya menyita waktu. "Dulu tuh saya bisa lembur bikin subtitle. Cuma buat ngirimin orang ngomong doang. Sekarang dengan adanya AI dan koneksi yang cepat, itu bisa satu tombol aja udah langsung ke-generate," sambungnya.
Dampak Fatal Delay bagi Streamer
Bagi streamer, kualitas internet yang tidak konsisten bisa berakibat fatal. Streamer Abi Azkakia menjelaskan keterlambatan koneksi dalam hitungan detik dapat menghentikan siaran langsung secara otomatis atau membuat permainan berakhir dengan kekalahan.
"Internet semisal dia apa namanya koneksinya ke-delay, saya hitung kurang lebih ada 30 detik aja, itu dari platform langsung matiin. Otomatis mati. Saya nggak bisa live streaming," ujar Abi.
Ia menambahkan, satu detik gangguan berupa jumping saja sudah cukup membalikkan keadaan permainan. Karena itu, konsistensi jaringan menjadi penentu utama bagi profesi yang bergantung pada siaran langsung.
Lima Metrik yang Dipantau AI Telkomsel
Manager Network VIP and HVC Management Jabotabek Telkomsel Muhammad Hidayat Rido Tarigan menjelaskan, pihaknya aktif memakai AI untuk mengoptimalkan performa jaringan 5G. AI membantu membaca kebutuhan pengguna yang berbeda-beda di tiap titik jaringan.
"Pertama di sisi kita gitu ya untuk melihat jaringan itu sebenarnya biasanya ada lima metrik yang digunakan gitu. Yang pertama adalah download throughput. Yang kedua, upload throughput. Berikutnya latensi, jitter, dan packet loss," ungkap Rido.
Kelima komponen itu dinilai penting karena kebutuhan masing-masing pengguna berbeda. Dengan pemantauan berbasis AI, Telkomsel dapat menyesuaikan kapasitas jaringan sesuai profil trafik pengguna, termasuk kreator yang mengandalkan unggah video besar dan streamer yang sensitif terhadap latensi.
Tambahan Spektrum untuk Kapasitas 5G
Spektrum frekuensi baru di 700 MHz dan 2,6 GHz yang diperoleh Telkomsel diharapkan menambah kapasitas dan kecepatan jaringan 5G. Pita 700 MHz dikenal luas jangkauannya, sementara 2,6 GHz mendukung kapasitas trafik lebih besar di area padat.
Kombinasi keduanya relevan bagi pengguna di kota besar yang aktivitas digitalnya tinggi, termasuk ekosistem kreator dan pelaku bisnis konten yang bergantung pada koneksi cepat untuk produksi dan distribusi karya.