TARAKAN — Muhammad Yunus menilai konsep pendidikan di SRT 59 Tarakan melampaui sekadar pembebasan biaya sekolah. Politisi Partai Gerindra itu melihat sistem asrama mampu membentuk karakter dan kedisiplinan siswa secara menyeluruh.
“Sekolah ini melampaui konsep pendidikan gratis biasa. Di sini, anak-anak ditempa secara akademis, disiplinnya dibentuk, dan keahliannya diasah. Saya sangat yakin, jebolan Sekolah Rakyat ini bakal jadi motor penggerak generasi unggul kita ke depan,” ujar Yunus.
Fasilitas dan Pola Asuh Jadi Sorotan
Saat meninjau lokasi, Yunus menyempatkan diri memeriksa sejumlah fasilitas. Ia melihat langsung kondisi asrama, ruang belajar, hingga pola asuh yang diterapkan pengelola kepada para murid.
Yang membuatnya kagum, sekolah ini tidak hanya fokus pada nilai akademik. Pemenuhan gizi, layanan kesehatan, dan pembinaan mental siswa juga menjadi prioritas. Menurut Yunus, pendekatan holistik semacam ini menjadi kunci transformasi positif anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Keterbatasan ekonomi bukan lagi alasan untuk tidak berprestasi. Asalkan ada ruang dan bimbingan yang tepat, mereka bisa bersaing,” tegasnya.
Orang Tua Diminta Dukung Penuh Program
Meski fasilitas yang ada dinilai sudah memadai, Yunus mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa lepas dari peran orang tua. Ia mendorong keluarga siswa memiliki visi jangka panjang dan tidak mengorbankan masa depan anak demi kebutuhan ekonomi sesaat.
“Pihak sekolah sudah berupaya maksimal menyediakan segalanya secara cuma-cuma dan berkualitas. Sekarang giliran orang tua yang harus pasang badan memberi dukungan penuh. Ingat, modal paling berharga untuk mengubah nasib keluarga adalah pendidikan anak,” pesan Yunus.
Target Jadi Role Model Pendidikan Inklusif di Kaltara
Ketua DPRD Tarakan berharap SRT 59 Tarakan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain di Kalimantan Utara. Ia optimistis sekolah ini mampu melahirkan generasi yang mandiri, berintegritas, dan siap berkontribusi membangun daerah.
Kehadiran sekolah rakyat terintegrasi ini menjadi angin segar bagi warga kurang mampu di Tarakan. Dengan sistem berasrama, anak-anak tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga pembinaan karakter yang berkelanjutan.