KALIMANTAN UTARA — Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky P. Gozali menyampaikan bahwa risiko El Nino menjadi perhatian utama dalam pengendalian inflasi ke depan. Fenomena alam yang diperkirakan menguat di kawasan timur Indonesia tersebut dinilai dapat mengganggu rantai pasok pangan dan meningkatkan biaya produksi di tingkat petani.
"Namun kita harus waspada di ke depan, ini terutama perlu mewaspadai risiko dari El Nino, ini El Nino diperkirakan akan lebih kuat hingga bulan Oktober 2026 di kawasan timur Indonesia, serta tekanan biaya produksi," ujar Ricky dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (20/8).
Fokus Pengendalian Harga Pangan
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, bank sentral akan memprioritaskan strategi pada dua hal utama: ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Langkah ini diambil untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap stabil di tengah potensi gagal panen yang disebabkan oleh kekeringan.
"Oleh sebab itu, strategi nanti pengendalian inflasi akan tetap fokus pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi," tegasnya. BI menyebut komoditas yang menjadi prioritas pengawasan adalah beras, cabai, dan bawang merah, yang selama ini menjadi penyumbang utama inflasi volatile food.
Digital Farming dan Kerja Sama Antar Daerah
Dalam jangka menengah, BI akan mendorong transformasi sektor pertanian melalui penerapan digital farming dan pertanian presisi. Langkah ini disertai penguatan penanganan pascapanen serta hilirisasi pangan agar rantai pasok lebih efisien dan tidak mudah terganggu faktor cuaca.
Selain itu, pengendalian inflasi akan diperkuat lewat sejumlah instrumen operasional. Beberapa di antaranya adalah penerapan kerja sama antar daerah (KAD) dengan skema business to business (B2B) berbasis surplus dan defisit antarwilayah, penyusunan fasilitas distribusi pangan (FDP) yang lebih forward looking, pemberian subsidi ongkos angkut, serta gerakan pasar murah dengan prinsip tepat komoditas, tepat lokasi, dan tepat waktu.
Inflasi Juni 2026 Terkendali
Kewaspadaan ini muncul di tengah tren inflasi yang sebenarnya menunjukkan perbaikan. Data BI mencatat tingkat inflasi pada Juni 2026 berada di level 2,88 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,34 persen.
Penurunan utama disumbang oleh inflasi volatile food yang membaik signifikan menjadi 2,52 persen dari sebelumnya 5,58 persen. Perbaikan ini menjadi modal bagi BI untuk lebih fokus mengantisipasi gejolak harga akibat El Nino pada paruh kedua tahun ini.