Pencarian

DBS: Bisnis Konektivitas Telko Makin Jenuh, Data Center Butuh Pasokan Listrik 2.000 MW

Kamis, 20 Agustus 2026 • 16:45:31 WIB
DBS: Bisnis Konektivitas Telko Makin Jenuh, Data Center Butuh Pasokan Listrik 2.000 MW
Pusat data di Indonesia diproyeksikan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 2.000 MW seiring melambatnya bisnis konektivitas telekomunikasi.

KALIMANTAN UTARA — Industri telekomunikasi Tanah Air tengah berada di titik jenuh. Setelah dua dekade bertumbuh melalui ekspansi jaringan 2G, 3G, dan 4G, serta pergeseran layanan dari suara ke data, pertumbuhan bisnis konektivitas kini melambat. Konsolidasi pasar yang menyisakan tiga pemain utama—seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata—semakin menegaskan fase matang industri ini.

Riset DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks mencatat pertumbuhan sektor telekomunikasi turun dari sekitar 9% pada 2015 menjadi 7% pada kuartal I 2026. Meski trafik data terus meningkat, average revenue per user (ARPU) dan margin keuntungan operator dinilai masih tertinggal.

Dari Konektivitas Menuju Pusat Data

Indonesia Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan, masa depan perusahaan telekomunikasi tidak lagi bertumpu pada jualan paket data. Ekspansi berikutnya adalah membangun pusat data dan infrastruktur digital untuk menangkap peluang ledakan kecerdasan buatan (AI).

"Dari Telco ke Tech-co, sebagai perusahaan teknologi," kata William dalam peluncuran riset di Jakarta, Kamis (20/8). "Ini menjadi the next telco company expansion, dari konektivitas menuju pusat data."

Dorongan AI diperkirakan meningkatkan kebutuhan pemrosesan data ke level baru. Nilai ekonomi digital Indonesia yang mencapai US$ 99 miliar (sekitar Rp 1.766,5 triliun) pada 2025, dengan 79% pengguna telah familiar dengan AI, menjadi modal besar bagi operator yang serius menggarap bisnis ini.

"Data center platform ini menjadi salah satu tulang punggung jika Indonesia ingin success on current AI era," ujarnya.

PR Besar: Kebutuhan Listrik Data Center Capai 2.000 MW

Di balik peluang itu, ada tantangan besar yang menghadang: energi. DBS Indonesia memproyeksikan konsumsi listrik nasional akan melonjak drastis dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Lonjakan ini tidak hanya dipicu data center, tetapi juga kendaraan listrik, hilirisasi industri, dan elektrifikasi memasak.

William menyebut ekspansi pusat data di Indonesia ke depan dapat membutuhkan tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 MW. Angka ini setara dengan kapasitas satu pembangkit listrik besar yang mampu memasok satu kabupaten.

Persoalannya, komposisi energi primer Indonesia masih didominasi fosil. Sekitar 85% energi primer berasal dari batu bara (40%), gas alam (16%), dan minyak (29%). Energi terbarukan baru berkontribusi sekitar 15%, padahal potensinya mencapai 3.687 GW—kurang dari 0,5% yang baru dimanfaatkan.

Energi Bersih Jadi Syarat Bisnis Data Center

Tuntutan pasar global terhadap energi rendah karbon semakin menekan operator dan pengembang pusat data. DBS menilai pengembangan energi ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pembangkit energi terbarukan. Indonesia membutuhkan energy backbone yang kuat, termasuk pengembangan baterai, penyimpanan energi, serta modernisasi transmisi untuk menopang ekspansi data center sekaligus investasi hilirisasi industri.

Tanpa infrastruktur energi yang memadai, ambisi Indonesia menjadi pemain utama ekonomi digital dan AI di kawasan bisa tersendat. Bagi investor, arah diversifikasi emiten telekomunikasi ke bisnis data center layak dicermati, tetapi fundamentalnya tetap ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan masalah pasokan listrik.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks