BULUNGAN — Sektor industri mikro dan kecil di Kalimantan Utara (Kaltara) terbukti menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja, khususnya bagi kaum perempuan. Berdasarkan hasil Survei Industri Mikro dan Kecil (IMK) Tahun 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, sektor ini menyerap 11.752 tenaga kerja dengan dominasi pekerja perempuan mencapai 6.999 orang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa 59,5 persen lapangan kerja di sektor IMK Kaltara diisi oleh perempuan. Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menegaskan bahwa fenomena ini mencerminkan peran vital perempuan dalam menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di daerah.
“Pekerja perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Ini menunjukkan peran penting perempuan dalam mendukung usaha IMK di Kalimantan Utara,” kata Mustaqim, Selasa (25/8/2026).
Didominasi Lulusan SMA dan SD
Dilihat dari latar belakang pendidikan, sektor ini menjadi ruang kerja yang terbuka luas bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah. Data BPS mencatat, pekerja dengan ijazah SMA mendominasi dengan persentase 37,94 persen.
Disusul lulusan SD sebesar 21,50 persen, lulusan SMP 19,27 persen, dan mereka yang tidak tamat SD mencapai 14,13 persen. Sementara itu, pekerja dengan pendidikan tinggi (perguruan tinggi) hanya berkontribusi 7,14 persen dari total keseluruhan.
Komposisi ini dinilai wajar mengingat sifat usaha mikro dan kecil yang cenderung padat karya dan tidak mensyaratkan kualifikasi pendidikan tinggi secara ketat. Namun, hal ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor tersebut.
Mengapa Perempuan Mendominasi Sektor IMK?
Dominasi pekerja perempuan di sektor ini tidak terlepas dari fleksibilitas waktu kerja yang ditawarkan. Usaha mikro dan kecil yang umumnya dikelola dari rumah memungkinkan pekerja perempuan untuk tetap produktif secara ekonomi tanpa meninggalkan peran domestiknya.
Keberadaan IMK juga menjadi penyelamat ekonomi keluarga di tengah terbatasnya lapangan kerja formal di sejumlah kabupaten/kota di Kaltara. Sektor ini menyerap tenaga kerja di berbagai wilayah, mulai dari Tarakan, Bulungan, Malinau, Nunukan, hingga Tana Tidung.
Potensi dan Tantangan Pengembangan IMK Kaltara
Mustaqim menambahkan, rendahnya proporsi pekerja berpendidikan tinggi di sektor IMK menunjukkan masih terbukanya peluang besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan keterampilan dan pendidikan pekerja dinilai krusial untuk mendorong produktivitas serta daya saing produk-produk lokal Kaltara.
“Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan pekerja penting untuk mendorong produktivitas serta daya saing usaha industri mikro dan kecil,” ujarnya.
BPS Kaltara berharap data IMK ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pengembangan usaha, program peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta penguatan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Dengan jumlah tenaga kerja yang besar, sektor ini memiliki potensi signifikan untuk terus dikembangkan menjadi tulang punggung ekonomi daerah.