Pencarian

Pagar Sarang Lebah TNWK Lampung, Cara Cerdas Berdamai dengan Gajah Sumatera

Jumat, 04 September 2026 • 14:12:31 WIB
Pagar Sarang Lebah TNWK Lampung, Cara Cerdas Berdamai dengan Gajah Sumatera
Pagar sarang lebah dibangun di batas kawasan TNWK Lampung sebagai upaya mitigasi konflik antara gajah sumatera dan manusia secara alami.

KALIMANTAN UTARA — Konflik antara gajah sumatera dan manusia di sekitar TNWK memang sudah berlangsung lama, bahkan sejak dekade 1980-an. Kini, Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK punya pendekatan baru yang lebih ramah lingkungan. Mereka membangun pagar sarang lebah di batas kawasan sebagai pengusir alami, memanfaatkan rasa takut gajah pada dengungan dan sengatan lebah.

Fokus Utama: Mengurangi Konflik Gajah & Manusia

Brigjen TNI Sriyanto, Ketua Komite Gabungan, menjelaskan metode ini sudah teruji di sejumlah wilayah Afrika. Gajah secara naluriah akan menghindar saat mendengar suara lebah, sehingga mereka tak akan berani memasuki lahan pertanian warga.

"Suara dengungan dan sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh, namun tidak membahayakan gajah," ujarnya di Lampung Selatan, Jumat.

Dengan cara ini, konflik dapat ditekan tanpa melukai satwa maupun merugikan manusia. Pagar ini menjadi "tameng" hidup yang menjaga batas antara hutan lindung dan area pemukiman.

Potensi Ekonomi untuk Warga Lokal

Jangan salah, pagar ini bukan sekadar pembatas fisik. Di dalamnya tersimpan peluang usaha madu yang menjanjikan. Komite menggandeng warga sekitar untuk membudidayakan lebah lokal jenis Apis cerana, yang dinilai cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Produktivitas lebah ini cukup menjanjikan. Satu koloni bisa menghasilkan sekitar 5-8 kilogram madu per tahun. Jika harga jualnya Rp150 ribu per kilogram, maka warga yang memiliki 10 koloni dapat mengantongi tambahan pendapatan hingga Rp15 juta per tahun.

"Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga di sekitar kawasan konservasi," tambah Sriyanto. Kabar baiknya, konsumsi madu nasional meningkat 10-15 persen tiap tahun, sementara pasar domestik masih bertumpu pada impor. Ini celah pasar yang terbuka lebar bagi warga sekitar.

Manfaat Ekologis: Penyerbukan Alami

Keberadaan lebah memberikan efek domino bagi ekosistem. Lebah membantu proses penyerbukan silang pada tanaman di sekitar lahan pertanian dan perkebunan masyarakat. Hasil panen pun berpotensi meningkat kualitas dan kuantitasnya.

"Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem, membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga," ucap Sriyanto.

Ini adalah contoh nyata bagaimana konservasi tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Warga diuntungkan secara ekonomi, alam tetap lestari, dan gajah sumatera yang masuk daftar satwa dilindungi bisa hidup lebih aman di habitatnya.

Informasi Praktis untuk Wisatawan

TNWK terletak di Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Dari Kota Bandar Lampung, perjalanan darat memakan waktu sekitar 2-3 jam. Destinasi ini terkenal dengan Sekolah Gajah atau Elephant Response Unit yang edukatif untuk wisata keluarga.

Bagi traveler yang penasaran melihat upaya konservasi ini, perlu dicatat bahwa pagar sarang lebah dibangun di area batas kawasan. Informasi terkini mengenai tarif masuk dan jam operasional kunjungan dapat dikonfirmasi langsung ke Balai TNWK sebelum berangkat.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari. Udara masih segar dan aktivitas gajah di pusat konservasi biasanya lebih mudah terlihat saat cuaca cerah. Kombinasi wisata alam dan edukasi konservasi ini cocok untuk liburan keluarga yang ingin mengenalkan pentingnya menjaga satwa liar pada anak-anak sejak dini.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: megapolitan.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks