TANJUNG SELOR — Sejak pagi, area Pura Agung Jagat Benuanta dipenuhi krama Hindu yang mengenakan pakaian adat persembahyangan bernuansa putih dan kuning. Mereka membawa aneka sarana upakara, dari banten gebogan yang menjulang hingga sesajen ritual lainnya, sebagai wujud syukur atas limpahan berkah dan kesejahteraan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Utara, Dr. Jero Budi, menyebut peringatan ke-18 tahun berdirinya pura ini mengambil momentum suci Purnama Kelima sebagai media pencerahan spiritual umat.
"Pujawali bukan sekadar rutinitas ritual ritualistik tahunan, melainkan momentum penting untuk melakukan spiritual detox, membersihkan pikiran dari kepenatan modernitas, sekaligus mengukuhkan kembali nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Salah satu prosesi yang paling memikat perhatian adalah tari-tarian Rejang Dewa yang dibawakan anak-anak Pasraman. Pertunjukan itu menjadi bagian dari rangkaian upacara yang berlangsung sejak pagi hingga siang.
Ritual Me Purwa Daksina turut digelar dalam prosesi ini. Para pemuka agama bersama umat berjalan beriringan mengitari area utama pura sebanyak tiga kali putaran searah jarum jam.
Mereka mengusung pralingga atau simbol suci stana Tuhan serta umbul-umbul sakral. Ritual ini dimaknai sebagai simbol penyelarasan diri manusia dengan hukum alam semesta (Rta), sekaligus memagari area suci dari segala energi negatif.
Pujawali kali ini juga menjadi cerminan penerapan konsep Tri Hita Karana di era modern. Semangat gotong-royong atau ngayah yang ditunjukkan generasi muda Hindu (Yowana) dalam mempersiapkan upacara menjadi bukti pelestarian tradisi tetap kokoh di tengah gempuran arus digitalisasi.
Interaksi fisik yang hangat di antara krama Hindu selama upacara disebut menjadi penyeimbang sosial yang berharga di era serba virtual saat ini. Keterlibatan Yowana tidak hanya pada tahap persiapan, tetapi juga selama rangkaian ritual berlangsung.
Upacara diakhiri dengan persembahyangan bersama, Dharma Wacana, dan pemercikan tirta suci yang dipimpin sulinggih atau pinandita. Rangkaian penutup ini menjadi puncak seluruh prosesi yang telah berlangsung sejak pagi.
Melalui Pujawali ke-18 ini, umat Hindu di Tanjung Selor berharap kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di Kalimantan Utara terus terjaga. Harapan lain yang disampaikan adalah kelestarian alam lingkungan tetap terpelihara secara harmonis dan berkelanjutan.