KALIMANTAN UTARA — Ada pemandangan yang tak mudah dilupakan dari Kazan, 2018. Usai Brasil tersingkir oleh Belgia di perempat final Piala Dunia, Neymar berdiri sendirian di samping bus tim. Lampu LED raksasa menerangi punggungnya yang membungkuk. Kepalanya tertunduk, bahunya seolah menahan seluruh ekspektasi 210 juta jiwa. Saat itu usianya baru 26 tahun—dan sepertinya kesempatan terbaiknya untuk mengangkat trofi sudah lewat.
Bukan Salah Neymar, Tapi Semua Berpusat Padanya
Kekalahan dari Belgia bukan sepenuhnya kesalahan Neymar. Namun kehadirannya di lapangan menciptakan celah taktis yang dieksploitasi Roberto Martínez dengan memindahkan Romelu Lukaku ke sayap kanan. Setiap Belgia merebut bola, mereka menusuk sisi kiri Brasil yang rapuh. Tak ada Rodrigo De Paul di skuad Brasil—dan ketidakseimbangan itu berujung fatal.
Dari Bayang Messi ke Narasi yang Tak Pernah Selesai
Saat Neymar berusia 18 tahun, ia memulai debutnya di tim nasional Brasil sebagai bagian dari regenerasi skuad pasca-kekecewaan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kala itu Lionel Messi berusia 23 tahun, jelas seorang bintang, dan Brasil harus memiliki padanannya. Sejak saat itu Neymar terus berusaha lepas dari bayangan pemain Argentina tersebut.
Bahkan kabar bahwa Carlo Ancelotti telah memasukkan Neymar ke dalam skuadnya untuk Piala Dunia mendatang terasa seperti upaya putus asa menciptakan narasi yang dinikmati Messi di final terakhir: tarian perpisahan lama setelah tubuh mulai meredup. Messi saat itu berusia 35 tahun; Neymar kini 34 tahun. Namun hanya sedikit kesamaan lain di antara keduanya.
Sejak awal, ada perasaan bahwa Brasil membutuhkan Messi versi mereka sendiri. Hal itu menciptakan budaya ketergantungan yang tidak menguntungkan siapa pun. Neymar adalah pemain yang menyenangkan sebagian orang dan membuat frustrasi sebagian lainnya—sebuah wadah tempat faksi-faksi yang bersaing menuangkan narasi mereka. Sangat mudah bagi individu itu sendiri untuk hilang di dalamnya.
Ada ironi yang kerap terlewat dalam kisah Neymar: seorang pemain potensial hebat yang tak pernah benar-benar diizinkan menjadi dirinya sendiri, yang substansinya tak pernah sepenuhnya sepadan dengan citranya. Kini, di usia 34 tahun, ia kembali dipanggil. Bukan untuk menjadi penyelamat—tapi untuk menulis ulang akhir dari sebuah narasi yang sudah terlalu lama menggantung.