KALIMANTAN UTARA — Lonjakan kinerja ini tidak lepas dari strategi operational excellence dan cost leadership yang dijalankan konsisten. EBITDA perusahaan tercatat naik 140 persen menjadi Rp14,28 triliun, seiring pertumbuhan volume produksi dan pengendalian biaya operasional yang lebih ketat.
Transformasi Danantara dan Diversifikasi Pendapatan
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebut dukungan pemerintah melalui Danantara menjadi fondasi utama transformasi bisnis yang menyeluruh. Hasilnya tidak hanya terlihat dari neraca keuangan, tetapi juga ketahanan perusahaan menghadapi gejolak ekonomi global.
"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tetapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," ujar Rahmad dalam keterangan resminya.
Strategi yang ditempuh mencakup diversifikasi sumber pendapatan, terutama dari segmen non-subsidi dan produk non-pupuk. Perusahaan juga memperluas sumber pasokan bahan baku serta menerapkan skema kontrak jangka panjang untuk meredam dampak fluktuasi harga komoditas terhadap biaya produksi.
Digitalisasi proses bisnis, penguatan sistem holding, hingga penyederhanaan proses usaha turut menjadi bagian dari transformasi. Di sisi tata kelola, terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 menjadi landasan hukum untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Revitalisasi Pabrik dan Pengembangan Bisnis Baru
Pupuk Indonesia menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan produktivitas aset. Langkah ini berjalan paralel dengan pengembangan bisnis metanol dan turunannya, clean ammonia, serta sektor pendukung industri.
Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menangkap peluang pasar global tanpa mengganggu pasokan pupuk bagi petani.
Distribusi Subsidi yang Makin Cepat dan Tepat
Transformasi internal berdampak langsung pada layanan ke petani. Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, tumbuh 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Implementasi sistem i-Pubers mempercepat proses penebusan pupuk, sementara Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 menyederhanakan tata kelola distribusi.
Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton. "Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, yaitu pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan biaya yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," kata Rahmad.
Rahmad menegaskan, keberlanjutan bisnis tidak diukur dari mengejar angka tertinggi setiap tahun. "Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tetapi juga memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput," pungkasnya.