KALIMANTAN UTARA — Keputusan Cordeiro diumumkan di tengah meningkatnya tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Rencana pembentukan badan usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola penjualan saham turnamen dinilai sejumlah pihak sebagai langkah komersialisasi berlebihan yang mengancam integritas olahraga ini.
Alasan Kekecewaan: "Kesepakatan Buruk untuk Sepakbola"
Dalam pernyataan resminya, Cordeiro menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam penyusunan proposal tersebut dan secara tegas menolaknya. Ia menyebut langkah ini tidak masuk akal secara finansial.
"Presiden FIFA telah menyoroti pendapatan sebesar 15 dolar AS yang dihasilkan antara tahun 2022 dan 2026. Dengan latar belakang tersebut, tidak masuk akal menjual saham permanen di aset sepakbola yang paling berharga hanya demi mengumpulkan 4,2 miliar dolar AS," ujarnya, dilansir dari Reuters.
"Saya tidak bisa berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Ini adalah kesepakatan buruk bagi para anggota FIFA, keputusan buruk buat sepakbola, serta masa depan permainan ini," tegas Cordeiro.
Gelombang Penolakan dari Konfederasi dan Ancaman Boikot
Penolakan terhadap wacana ini datang dari berbagai arah. Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia apabila rencana penjualan saham tersebut benar-benar direalisasikan.
Sebelum mundur, Cordeiro sempat mewakili FIFA dalam Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026. Posisinya yang strategis membuat pengunduran dirinya menjadi sinyal kuat bahwa gejolak internal di tubuh FIFA tengah memanas.
Nasib FIFA Forward Enterprise di Tengah Krisis Kepercayaan
Wacana pembentukan FFE sendiri digadang-gadang sebagai cara FIFA untuk meningkatkan pendapatan dari turnamen-turnamen besarnya. Namun, langkah ini justru memicu krisis kepercayaan dari dalam organisasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gianni Infantino terkait mundurnya orang kepercayaannya tersebut. Keputusan Cordeiro menjadi ujian pertama bagi soliditas kepemimpinan Infantino dalam menghadapi gelombang kritik atas arah kebijakan bisnis FIFA.