Pencarian

GREAT Institute Nilai Prabowo Berpeluang Jadi Penengah Konflik Korea Utara-Korea Selatan

Minggu, 02 Agustus 2026 • 13:27:18 WIB
GREAT Institute Nilai Prabowo Berpeluang Jadi Penengah Konflik Korea Utara-Korea Selatan
Presiden Prabowo Subianto dinilai berpeluang menjadi penengah konflik Korea Utara dan Korea Selatan berdasarkan permintaan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung.

KALIMANTAN UTARA — Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai langkah Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung yang meminta bantuan Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjadi penengah hubungan dengan Korea Utara merupakan bentuk pengakuan nyata terhadap kepemimpinan Indonesia di panggung internasional. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi unik yang tidak dimiliki banyak negara lain.

"Permintaan tersebut sangat beralasan karena Indonesia memiliki hubungan yang sangat baik dengan kedua Korea. Indonesia juga selama ini dikenal konsisten menjaga hubungan diplomatik yang harmonis, terbuka, dan bersahabat dengan Seoul maupun Pyongyang," kata Teguh dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).

Modal Historis Indonesia Sejak Era Soekarno

Teguh menjelaskan, konsistensi politik luar negeri Indonesia menjadi pembeda utama. Sejak era Presiden Soekarno, hubungan diplomatik dengan kedua negara di Semenanjung Korea terus terpelihara tanpa kehilangan posisi netral. Modal ini dinilai penting di tengah kebuntuan komunikasi antara Seoul dan Pyongyang.

Pengalaman Indonesia dalam berbagai misi perdamaian dunia, ditambah gaya kepemimpinan Prabowo, disebutnya sebagai kombinasi yang dapat membuka kembali kanal dialog. Teguh, yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–RRD Korea, mengaku siap memberikan masukan kepada pemerintah untuk mendukung inisiatif tersebut.

Momentum Dialog di Tengah Perubahan Politik

Berbekal pengalaman penelitian dan puluhan kali kunjungan ke Korea Utara maupun Korea Selatan, Teguh menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pendekatan baru. Ia menyoroti latar belakang politik Lee Jae-myung yang berasal dari kubu progresif, yang dinilai lebih terbuka terhadap dialog dibandingkan pemerintahan konservatif sebelumnya yang fokus pada aspek keamanan.

Namun ia mengingatkan, kondisi hubungan kedua Korea saat ini tidak sama dengan periode dialog damai 2018–2019 antara Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong Un. "Dinamika politik di kedua negara telah berubah sehingga membutuhkan pendekatan diplomasi yang lebih adaptif," ujarnya.

Sejarah Panjang Perpecahan Semenanjung Korea

Teguh turut mengingatkan akar konflik yang berawal dari menyerahnya Jepang pada Perang Dunia II, yang kemudian memecah Semenanjung Korea menjadi dua entitas. Pemahaman atas sejarah ini dianggap penting dalam merancang strategi mediasi yang tepat, agar langkah yang diambil tidak mengulang kegagalan pendekatan sebelumnya.

Meski peluang terbuka, tantangan di lapangan tetap besar. Perubahan struktur politik di kedua negara menuntut taktik yang lebih cair dan tidak kaku. Peran Indonesia, menurut Teguh, bukan sekadar menjadi perantara, tetapi juga menciptakan ruang dialog yang sebelumnya buntu.

Langkah Lee Jae-myung yang secara terbuka meminta bantuan Prabowo dinilai sebagai sinyal bahwa Indonesia dipercaya mampu memainkan peran yang lebih substantif, bukan hanya seremonial. Keputusan selanjutnya ada di tangan kedua pemimpin Korea untuk merespons tawaran yang ada.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: akurat.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks