KALIMANTAN UTARA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan proyeksi optimistis tersebut dalam pidatonya di Jakarta, Jumat (14/8). Pada 2025, dividen BUMN tercatat mencapai Rp138 triliun, naik 160 persen dari posisi 2024 yang hanya Rp85,5 triliun. Adapun total laba BUMN sepanjang 2024 tercatat Rp186 triliun.
"Tahun 2026 diproyeksikan kembali naik sampai dengan Rp200 triliun tanpa ada PMN. Artinya dari 2024 ke 2026 naik dari Rp53 triliun ke Rp200 triliun atau bisa dikatakan empat kali lebih besar, 400 persen meningkatnya tanpa PMN," ujar Prabowo.
Kinerja Semester I: Semen Indonesia Tumbuh 408 Persen
Pembenahan internal yang digenjot pemerintah mulai menunjukkan hasil di semester pertama 2026. Laba bersih PT Semen Indonesia (SIG) melesat 408,9 persen, menjadikannya pertumbuhan tertinggi di antara BUMN besar lainnya.
PT Pupuk Indonesia menyusul dengan kenaikan laba 252,8 persen, diikuti Pertamina yang tumbuh 86 persen. Pegadaian membukukan pertumbuhan 84,4 persen, sementara Pelindo naik 60,4 persen dan PLN mencatatkan kenaikan laba 54,4 persen.
Prabowo menegaskan angka-angka tersebut harus valid dan bebas dari rekayasa. Ia mengingatkan jajaran BUMN agar tidak bermain-main dengan laporan keuangan.
"Saudara-saudara, saya juga ingatkan di sini bahwa kita tidak mau toleransi dengan permainan angka, dengan laporan palsu. Kita harus dapat angka-angka yang benar, angka yang tepat, walaupun kadang-kadang pahit," imbuhnya.
Garuda Indonesia: 20 Pesawat Kembali Mengudara
Salah satu cerita pemulihan paling mencolok datang dari Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah yang sempat terancam pailit dan memiliki puluhan pesawat grounded itu kini berhasil mengaktifkan kembali armadanya.
Per Juni 2026, total 20 pesawat tambahan berhasil direaktivasi sehingga jumlah armada operasional mencapai 140 unit. Dengan perbaikan operasional ini, pemerintah membidik Garuda kembali membukukan laba pada awal 2027.
Proyeksi dividen Rp200 triliun ini menempatkan BUMN sebagai salah satu penyumbang utama penerimaan negara di tengah upaya pemerintah menekan defisit fiskal. Keberhasilan target tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi perbaikan kinerja operasional dan tata kelola di seluruh lini perusahaan pelat merah.