Pencarian

PT Astra International Tbk Bukukan Pendapatan Rp157,9 Triliun di Semester I 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 • 16:44:00 WIB
PT Astra International Tbk Bukukan Pendapatan Rp157,9 Triliun di Semester I 2026

PT Astra International Tbk (Astra) membukukan pendapatan bersih konsolidasian Rp157,9 triliun pada semester I 2026, turun 3 persen dibandingkan Rp162,9 triliun pada periode sama tahun lalu.

Meski pendapatan turun, dua bisnis inti Astra—Otomotif dan Jasa Keuangan—justru mencatat pertumbuhan laba. Laba bersih Otomotif naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, sedangkan Jasa Keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.

Presiden Direktur Astra Rudy menyebut hasil ini sebagai bukti ketahanan Grup Astra di tengah kondisi bisnis yang dinamis. "Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Laba bersih tanpa non-recurring items tercatat Rp14,9 triliun, turun 7 persen dari Rp16 triliun. Dengan pos nonberulang Rp2,4 triliun—dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan impairment—laba bersih Grup akhirnya tercatat Rp12,5 triliun. Laporan per 30 Juni 2026 ini belum diaudit dan disusun sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.

Kinerja Otomotif dan Komponen

Penjualan mobil nasional naik 16 persen menjadi 437.000 unit, dengan penjualan mobil Astra tumbuh 10 persen dan pangsa pasar tetap 51 persen. Toyota dan Daihatsu tetap dua merek terlaris.

Penjualan sepeda motor nasional naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit, sejalan penjualan motor Honda naik 1 persen dengan pangsa pasar 77 persen. Kontribusi laba divisi Komponen melonjak 23 persen menjadi Rp921 miliar.

Divisi Mobilitas turut tumbuh: mobil bekas naik 4 persen menjadi 15.700 unit, kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.

Jasa Keuangan dan Segmen Lain

Pembiayaan baru konsumen tumbuh 10 persen menjadi Rp61,8 triliun. Pembiayaan sepeda motor menyumbang laba Rp2,4 triliun (+4%), pembiayaan mobil Rp1,2 triliun (+6%), pembiayaan alat berat Rp8,1 triliun (+1%) dengan laba Rp130 miliar (+11%). Asuransi Astra tumbuh 7 persen menjadi Rp906 miliar.

Segmen Lain-lain naik 31 persen menjadi Rp1,6 triliun, ditopang agribisnis dan properti. Sebaliknya, Solusi Pertambangan dan Alat Berat turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat minimnya penjualan emas Martabe dan penurunan kuota batu bara RKAB. Martabe sempat berhenti beroperasi awal 2026, aktif kembali kuartal II.

Buyback dan Strategi Baru

Astra dan PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana Rp10 triliun untuk buyback saham. "Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan," ujar Rudy.

Buyback sebelumnya senilai Rp7,4 triliun rampung sejak November 2025 hingga Juni 2026. Astra juga menjalankan MSOP pada Juli 2026.

Langkah ini sejalan dengan Strategy Roadmap baru sejak Mei 2026 yang memfokuskan Astra pada tiga bisnis inti: Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat, dengan pilar Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.

"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," kata Rudy.

Nilai aset bersih per saham Rp5.763 (+1%), ekuitas pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks