KALIMANTAN UTARA — Kepala Sub-Departemen Irigasi sekaligus Kepala Kantor Tetap Komando Pencegahan dan Pengendalian Bencana Provinsi Ha Tinh, Tran Duc Thinh, mengungkapkan bahwa Komite Rakyat Provinsi telah menetapkan target spesifik sumber daya manusia, material, dan peralatan untuk setiap daerah. Instruksi terbaru mewajibkan unit-unit lokal untuk menandatangani kontrak siaga dengan penyedia kapasitas agar mobilisasi cepat dilakukan saat darurat.
Kesiapan Perahu dan Rakit Jadi Titik Rawan
Di lapangan, kesenjangan terbesar terlihat pada ketersediaan transportasi air. Warga Kelurahan Ha Huy Tap, Nguyen Dinh Duong, menyebut perahu yang dimiliki warga umumnya kecil dan hanya mampu mengangkut sekitar empat orang. Kondisi ini berisiko tinggi ketika air naik cepat dan evakuasi harus dilakukan massal dalam waktu singkat.
"Masyarakat menyadari perlunya menyiapkan alat transportasi, tetapi sebagian besar berupa perahu kecil dengan kapasitas angkut terbatas," kata Duong. Ia berharap pemerintah memberikan dukungan tambahan berupa kapal berkapasitas lebih besar agar warga bisa merespons secara proaktif saat banjir datang.
Strategi Bertahan Warga di Zona Merah Sungai Ngan Sau
Di kawasan rawan banjir Sungai Ngan Sau, Desa Trung Tien, Komune Ha Linh, keluarga Tran Huu Hoang memilih strategi bertahan dengan membangun rumah bertingkat pasca banjir besar 2010. Sebelum musim hujan tiba, beras dan barang berharga selalu dipindahkan ke lantai atas, sementara perahu, rakit, dan jaket pelampung disiapkan di tempat yang mudah dijangkau.
Adaptasi serupa dilakukan Komando Militer Komune Cam Due yang terletak di hilir Danau Ke Go. Letnan Kolonel Bui Duc Huynh, Komandan Komando Militer Komune tersebut, menyatakan pasukan milisi rutin dikerahkan ke desa-desa yang berisiko banjir besar dan terisolasi. Mereka bertugas membantu evakuasi dan penyelamatan orang serta harta benda segera setelah situasi darurat terjadi.
Evaluasi Pasca Badai 2025: Rencana vs Eksekusi
Tran Duc Thinh menegaskan bahwa unit-unit terkait secara berkala memeriksa kapasitas respons aktual di lapangan. Langkah ini diambil untuk menghindari situasi di mana rencana telah disusun matang tetapi terjadi kekurangan personel atau peralatan ketika bencana benar-benar melanda.
Data tahun 2025 menjadi alarm: badai nomor 5, 6, dan 10 tidak hanya merusak puluhan ribu hektare tanaman serta hutan, tetapi juga menghancurkan banyak proyek infrastruktur. Total kerugian mencapai hampir 9.300 miliar VND, angka yang menunjukkan bahwa bencana alam masih menyebabkan kerusakan signifikan meskipun langkah proaktif telah diambil sejak dini.
Prinsip "empat langkah di tempat" yang menjadi pedoman penanggulangan bencana di Ha Tinh kini diuji dari sisi kesiapan logistik. Pemerintah provinsi menekankan bahwa efektivitas penanggulangan tidak cukup hanya dengan mengembangkan skenario evakuasi, tetapi harus dibuktikan dengan kecukupan personel, peralatan, dan perbekalan yang benar-benar siap digerakkan di tingkat akar rumput.