Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kalimantan Utara (Kaltara) dengan jarak pandang hanya berkisar 500 hingga 4.000 meter. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan menyebut kondisi terburuk terjadi pada malam hari, di mana jarak pandang menyusut drastis hingga 500 meter dan berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan di wilayah tersebut.
TANJUNG SELOR — Aktivitas penerbangan dan mobilitas warga di Kalimantan Utara (Kaltara) kini berada di bawah ancaman kabut asap. BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan mencatat jarak pandang di wilayah pengamatannya hanya berkisar antara 500 hingga 4.000 meter sepanjang periode 30–31 Agustus 2026.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Agus Ariyanto, menyebut kualitas udara dan visibilitas paling buruk terjadi saat malam hari. Pada rentang waktu tersebut, jarak pandang sempat turun hingga 500 meter dan disertai kabut (fog) akibat tingginya kelembapan udara.
Penerbangan dan Aktivitas Pagi Paling Terdampak
Agus menjelaskan, kabut yang bercampur asap tersebut terjadi karena angin bertiup sangat lemah. Akibatnya, partikel asap dan uap air mudah terakumulasi di dekat permukaan tanah, terutama pada malam hingga dini hari.
"Secara sederhana, kondisi asap yang persisten didukung oleh adanya hotspot di beberapa wilayah dan angin yang lemah, sehingga asap cenderung bertahan dan menyebabkan jarak pandang menurun, terutama pada malam hingga dini hari," katanya di Tanjung Selor, Bulungan, Senin.
Kondisi ini, lanjut Agus, patut menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan dunia penerbangan. Aktivitas yang membutuhkan jarak pandang baik, seperti take-off dan landing pesawat, dikhawatirkan mengalami keterlambatan atau pengalihan jadwal.
Hotspot Terkonsentrasi di Bulungan
Berdasarkan pemantauan satelit pada periode yang sama, sejumlah titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kaltara. Konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Bulungan, dengan sebaran paling signifikan terlihat di wilayah Tanjung Palas Timur dan sekitarnya.
"Titik panasnya terutama di Kabupaten Bulungan, serta beberapa titik di Malinau dan Nunukan," ungkap Agus.
Meski demikian, BMKG belum dapat memastikan seluruh asap yang teramati berasal dari titik panas tersebut. Penyebaran asap sangat dinamis dan bergantung pada arah serta kecepatan angin di lapisan atmosfer.
Peluang Hujan Masih Sangat Kecil
Masyarakat yang berharap hujan untuk membersihkan udara mungkin harus bersabar. Agus menyebutkan, potensi hujan dalam sepekan ke depan masih ada namun sangat kecil dan hanya bersifat lokal.
"Ada (potensi hujan), tetapi probabilitas sangat kecil, dan bersifat lokal dengan intensitas hujan ringan," ujarnya.
Dengan minimnya peluang hujan, BMKG mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak. Penggunaan masker juga disarankan untuk meminimalkan dampak gangguan pernapasan akibat menghirup udara yang mengandung partikel asap.