Pencarian

Indeks Keyakinan Konsumen Populix Anjlok ke 48,73, Warga Pilih Tahan Belanja

Rabu, 07 Oktober 2026 • 15:21:31 WIB
Indeks Keyakinan Konsumen Populix Anjlok ke 48,73, Warga Pilih Tahan Belanja
Indeks Keyakinan Konsumen Populix 2026 turun 6,17 poin menjadi 48,73 dari 54,90 pada periode sebelumnya.

KALIMANTAN UTARA — Indeks Keyakinan Konsumen (CCI) Populix 2026 merosot 6,17 poin menjadi 48,73 dari 54,90 pada periode 2025. Penurunan terdalam terjadi pada Indeks Persepsi Ekonomi Indonesia yang ambles 11,84 poin ke 43,96, dipicu kekhawatiran korupsi dan lonjakan harga pangan. Masyarakat pun mengadopsi pola pikir "Protect First, Spend Later" dengan memangkas belanja harian hingga kebutuhan sekunder.

Riset Populix bertajuk Consumer Confidence Index 2026 memotret pergeseran perilaku konsumen Indonesia yang semakin defensif terhadap pengeluaran. Survei melibatkan 1.000 responden pada 10–15 Juli 2026 dan dipaparkan Senior Research Director Populix, Indah Tanip, di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Oktober 2026.

Tekanan terhadap keyakinan konsumen kali ini tidak datang dari satu sisi saja. Persepsi terhadap kondisi makroekonomi, keuangan pribadi, hingga kemampuan mengendalikan pengeluaran mengalami koreksi bersamaan.

Persepsi Ekonomi Makro Jadi Titik Terlemah

Dari tiga subindeks yang diukur, Indeks Persepsi Ekonomi Indonesia mencatat penurunan paling dalam. Indeks ini merosot 11,84 poin menjadi 43,96, jauh di bawah dua subindeks lainnya.

Indeks Ekonomi Pribadi berada di level 50,04 atau turun 2,96 poin, sedangkan Indeks Kontrol Keuangan tercatat 52,77 atau terkoreksi 3,13 poin. Artinya, kekhawatiran konsumen lebih terpusat pada kondisi ekonomi nasional ketimbang kemampuan finansial mereka sendiri.

"Konsumen tidak hanya kurang positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan, tetapi juga semakin waspada terhadap situasi keuangan pribadi serta kemampuan mereka mengelola pengeluaran di masa depan," ujar Indah.

Korupsi dan Harga Pangan Paling Mengganggu

Dua isu domestik mendominasi kekhawatiran responden. Kasus korupsi disebut 48 persen responden sebagai sumber kekhawatiran utama, disusul lonjakan harga barang pokok yang dikeluhkan 41 persen responden.

Biaya hidup yang tinggi menempati posisi ketiga dengan 28 persen, sementara maraknya praktik judi online menjadi kekhawatiran 13 persen responden. Kombinasi tekanan ini menjelaskan mengapa indeks persepsi ekonomi makro jatuh paling tajam.

Riset Populix juga menemukan kelompok perempuan dan segmen Upper SEC (ekonomi kelas atas) jauh lebih pesimistis dibandingkan kelompok pria maupun kelas menengah. Temuan ini menunjukkan tekanan biaya hidup tidak hanya dirasakan kelompok berpenghasilan rendah.

Belanja Harian hingga Hiburan Kena Pangkas

Respons terhadap ketidakpastian terlihat dari pemangkasan anggaran di berbagai pos pengeluaran. Konsumen memangkas belanja kebutuhan harian hingga aktivitas rekreasi.

  • Belanja kebutuhan harian (groceries): dipangkas 53 persen responden
  • Biaya transportasi: 47 persen
  • Tagihan listrik, gas, dan air: 31 persen
  • Makan di luar dan pengiriman makanan: 42 persen
  • Hiburan luar ruang seperti bioskop dan konser: 40 persen
  • Anggaran liburan: 35 persen
  • Belanja pakaian dan aksesori: 34 persen

Pemangkasan pada kategori non-esensial seperti makan di luar dan hiburan mengindikasikan konsumen memprioritaskan kebutuhan pokok. Pola ini biasanya berdampak langsung pada kinerja sektor ritel, restoran, dan pariwisata.

Dana Darurat Belum Jadi Prioritas

Kesiapan menghadapi pengeluaran mendadak juga tergolong rendah. Hanya 15 persen konsumen yang merasa sangat siap (very ready) menanggung biaya medis atau perbaikan rumah mendadak.

Sebanyak 45 persen mengaku cukup siap (just ready), sedangkan sisanya berada dalam kondisi tidak siap. Kondisi ini memperkuat gambaran konsumen yang rentan terhadap guncangan finansial meski telah memangkas pengeluaran.

Harapan Semester II 2026 Masih Terjaga

Di tengah kehati-hatian, 46 persen responden tetap optimistis kondisi ekonomi Indonesia membaik pada semester II 2026. Optimisme ini ditopang ekspektasi kestabilan harga barang pokok, pembukaan lapangan kerja baru, dan perbaikan kinerja pasar modal.

"Masyarakat berada dalam kondisi controlled concern—mereka tetap waspada secara finansial, namun masih memiliki daya dan kontrol untuk mengelola keuangan serta merencanakan pembelian besar seperti pendidikan, renovasi rumah, maupun barang elektronik ke depan," kata Indah.

Sentimen konsumen ini sejalan dengan catatan inflasi Bank Indonesia. IHK September 2026 mengalami inflasi 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada bulan sebelumnya, namun masih dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan inflasi yang terjaga merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter dan sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah dalam TPIP dan TPID.

"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam TPIP dan TPID. Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027," ujar Ramdan.

Bagi pelaku pasar, kombinasi keyakinan konsumen yang melemah dan inflasi yang masih terkendali membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan sikap akomodatif. Namun pemulihan konsumsi rumah tangga tampaknya masih bergantung pada perbaikan sentimen terhadap isu korupsi dan stabilitas harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks