Pencarian

SOM MABIMS ke-50 Digelar di Jakarta 1-4 November 2026, Bahas Khairu Ummah

Senin, 02 November 2026 • 10:22:31 WIB
SOM MABIMS ke-50 Digelar di Jakarta 1-4 November 2026, Bahas Khairu Ummah
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut delegasi negara anggota MABIMS pada pembukaan SOM MABIMS ke-50 di Jakarta, Minggu (1/11/2026).

KALIMANTAN UTARA — Indonesia menjadi tuan rumah Senior Officials Meeting (SOM) MABIMS ke-50 yang berlangsung 1-4 November 2026 di Jakarta, dihadiri delegasi Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Forum ini mengangkat tema penguatan masyarakat Islam berkeadaban (khairu ummah) di kawasan Asia Tenggara. Rangkaian acara mencakup seminar terbuka dan sidang empat fokus strategis selama dua hari.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut langsung kedatangan seluruh delegasi negara anggota MABIMS di Jakarta, Minggu (1/11/2026). Penyambutan itu menandai dimulainya rangkaian pertemuan empat negara yang berlangsung hingga 4 November 2026.

Hadir dalam penyambutan tersebut para ketua delegasi: Timbalan Setiausaha Tetap Kementerian Hal Ehwal Ugama Brunei Darussalam Awang Haji Shamshol bin Haji Omar, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin, Timbalan Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia Muhyidin bin Aziz, serta Ketua Eksekutif Majlis Ugama Islam Singapura Kadir Maideen bin Mohamed.

Agenda Seminar Terbuka pada 2 November

Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenag, Imam Syaukani, menyebut rangkaian kegiatan diawali Seminar Kertas bertema "Khoiru Ummah: Berbagi Praktik Baik Membangun Masyarakat Islam Berkeadaban". Seminar disiapkan bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menghadirkan narasumber dari empat negara anggota.

Jadwalnya 09.00-12.00 WIB pada Senin (2/11/2026). Bagi akademisi, mahasiswa, atau pengamat kerja sama keagamaan regional yang ingin menyimak, informasi akses peserta dapat dikonfirmasi melalui Kementerian Agama atau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Empat Fokus Strategis dalam Sidang 2-3 November

Setelah seminar, sidang SOM MABIMS berlangsung 2-3 November 2026. Ada empat fokus strategis yang dibahas: potensi belia, pendidikan dan beragama, harmonisasi sosial-ekonomi, serta keharmonian serantau.

Setiap delegasi menyampaikan laporan sesuai fokus strategis negaranya masing-masing. Laporan itu menjadi bahan pertukaran pengalaman dan praktik baik antarnegara anggota.

Gagasan Pusat Kolaborasi MABIMS

Nasaruddin menawarkan gagasan pembentukan pusat kolaborasi sebagai wadah penguatan masa depan umat. Usulan itu diharapkan masuk dalam peluang kerja sama yang dibahas bersama negara anggota.

"Ini mungkin bisa menjadi peluang kolaborasi. Bagaimana kita membentuk semacam pusat atau center yang dapat memberikan penguatan bagi masa depan umat? Inilah salah satu agenda yang mungkin bisa kita pikirkan dan diskusikan bersama," katanya.

Ia juga menekankan agar kerja sama tidak berhenti pada pertemuan tahunan. Komunikasi intensif dan program berkelanjutan dinilai lebih dibutuhkan.

"Jangan sampai pertemuan kita hanya berlangsung sekali dalam setahun, kemudian tidak ada tindak lanjutnya, dan baru bertemu kembali satu tahun kemudian. Yang kita perlukan adalah intensitas komunikasi dan kesinambungan kerja sama," tegasnya.

Kriteria Khairu Ummah yang Ingin Dirumuskan

Dalam sambutannya, Nasaruddin mengajak empat negara merumuskan kriteria konkret masyarakat Islam berkeadaban. Asia Tenggara disebutnya sebagai kawasan paling aman untuk merawat dan membina Islam dari sisi ekonomi, keamanan, kekayaan alam, hingga potensi akhlakul karimah.

"Bagaimana mewujudkan khairu ummah, mari kita rumuskan kriteria konkretnya. Sebab, kawasan yang paling aman untuk mengayomi, merawat, memelihara, dan membina Islam adalah kawasan yang relatif aman secara ekonomi, paling stabil dari segi keamanan, paling potensial dari segi kekayaan alam, dan insyaallah juga memiliki potensi kesalehan dari segi akhlakul karimah. Itulah kawasan Asia Tenggara," ujarnya.

Hubungan empat negara disebut tidak sekadar kedekatan geografis. Ada pertalian sanad keilmuan yang menjadi modal memperkuat persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.

"Bagi masyarakat Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura bukan sekadar tetangga atau sahabat. Jika kita melihat silsilah sanad keilmuannya, terdapat pertalian yang sangat kuat. Jadi, hubungan kita bukan hanya bertetangga secara kultural, tetapi juga memiliki kedekatan genetik dan intelektual," ungkapnya.

Rangkaian SOM MABIMS ke-50 diharapkan menghasilkan kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat di kawasan dan di luar lingkup empat negara anggota.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: uinsgd.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks