KALIMANTAN UTARA — Coretan sejarah baru terukir di London Utara. Untuk pertama kalinya sejak musim 2003/2004—era The Invincibles—Arsenal menyandang gelar juara Premier League. Musim 2025/26 menjadi milik Mikel Arteta dan anak asuhnya, mengakhiri penantian panjang yang sempat terasa mustahil beberapa pekan lalu.
Kepastian datang bukan dari lapangan hijau tempat mereka bermain, melainkan dari Vitality Stadium. Bournemouth, yang sedang berjuang mengamankan tiket Eropa, sukses menahan laju Manchester City. Gol Eli Junior Kroupi membawa The Cherries unggul lebih dulu, sebelum Erling Haaland menyamakan kedudukan di masa injury time. Hasil itu tak cukup bagi City untuk memperpanjang persaingan gelar.
Gelar ke-14 di Tangan, Panggung Final Liga Champions Menanti
Ini adalah titel liga ke-14 bagi Arsenal, menjadikan mereka klub dengan koleksi gelar terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola Inggris. Lebih manis lagi, Arteta masih berpeluang membawa pulang trofi ganda. Pekan depan, pasukannya akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Budapest.
“Saya tidak ada di sini sebelumnya, tapi saya tahu perjalanan klub ini. Saya mendengar semua cerita tentang masa-masa sulit,” ujar gelandang Declan Rice kepada media usai pertandingan. “Menjadi bagian dari momen ini terasa sangat spesial. Klub ini pantas mendapatkan hal-hal baik.”
Kekalahan di Etihad Tak Patahkan Mental
Jalan menuju gelar ini tidak mulus. Sebulan lalu, Arsenal baru saja menelan kekalahan pahit dari City di Etihad Stadium. Banyak yang meragukan kemampuan mereka bangkit. Namun, Arteta membuktikan bahwa mentalitas timnya sudah berbeda. Empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan setelah laga itu menjadi bukti nyata.
Kemenangan tipis 1-0 atas Burnley pada Senin malam berkat gol Kai Havertz menjadi suntikan moral sekaligus tekanan besar bagi City. The Gunners memaksa Pep Guardiola dan pasukannya untuk menang di Bournemouth—sebuah misi yang gagal mereka tuntaskan.
Warisan Guardiola dan Keruntuhan di Akhir Musim
Bagi City, hasil ini menjadi akhir yang pahit di musim terakhir Guardiola. Pelatih asal Spanyol itu akan hengkang setelah satu dekade penuh trofi. Namun, kegagalan menjaga konsistensi di dua laga krusial—melawan Everton dan Bournemouth—menjadi biang keladi hilangnya gelar.
“Selamat untuk Arsenal, tapi bagi City, kami berharap lebih. Saat semuanya ada di tangan mereka, mereka tidak bisa menyelesaikannya,” ujar mantan bek City, Micah Richards, mengomentari performa timnya. “Ini hari yang buruk. Kami kehilangan momentum di saat yang salah.”
Perayaan di London Utara sudah dimulai sejak peluit akhir di Bournemouth berbunyi. Para suporter memadati pub dan sudut jalan, merayakan kembalinya kejayaan yang sudah 22 tahun dinanti. Kini, satu misi tersisa: membawa pulang Si Kuping Besar dari Budapest.