Pencarian

Laporan Warga Bongkar Dampak PLTU Captive di Kawasan Industri Hijau Bulungan: Nelayan Kehilangan 90 Persen Tangkapan Ikan Teri

Kamis, 30 Juli 2026 • 10:45:31 WIB
Laporan Warga Bongkar Dampak PLTU Captive di Kawasan Industri Hijau Bulungan: Nelayan Kehilangan 90 Persen Tangkapan Ikan Teri
Nelayan di pesisir Bulungan menunjukkan tangkapan ikan teri yang menurun drastis dari 200-300 kilogram menjadi sekitar 10 kilogram per malam.

BULUNGAN — Ambisi menjadikan Kalimantan Utara pusat industri hijau nasional kembali dipertanyakan. Temuan terbaru dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat mengungkap dampak nyata di lapangan. Laporan ini dirilis oleh NUGAL Institute for Social and Ecological Studies, Perkumpulan Lingkar Hutan Lestari (PLHL), Trend Asia, dan Gerakan #BersihkanIndonesia.

Mereka menyoroti operasional PLTU captive milik PT Kaltara Power Indonesia (KPI) di kawasan KIPI Bulungan. PLTU ini merupakan anak usaha grup ADARO/AlamTri Resources dan masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN). Para peneliti menilai proyek ini tidak hanya mengubah lanskap pesisir, tetapi juga menekan ruang hidup masyarakat di Tanah Kuning dan Mangkupadi.

Tangkapan Ikan Anjlok, Nelayan Terjepit

Salah satu temuan paling mencolok adalah kondisi nelayan di pesisir Bulungan. Data dalam laporan menunjukkan penurunan drastis hasil tangkapan dalam beberapa tahun terakhir.

"Tangkapan ikan teri yang sebelumnya bisa mencapai 200 hingga 300 kilogram per malam kini hanya berkisar sekitar 10 kilogram," kata Seny Ahmad dari NUGAL Institute dalam keterangan tertulis. Sementara itu, hasil tangkapan kepiting rajungan turun dari 20 hingga 40 kilogram per hari menjadi sekitar 10 kilogram.

Nelayan menghadapi tekanan ganda: hasil tangkapan menurun sementara harga kebutuhan pokok meningkat. Seny menambahkan bahwa kondisi ini membuat sebagian nelayan mulai mempertimbangkan meninggalkan profesinya. Penghasilan tidak lagi sebanding dengan biaya operasional dan kebutuhan sehari-hari.

Ancaman Polusi Udara dan Ekosistem Pesisir

Laporan tersebut juga menyoroti potensi dampak kesehatan akibat aktivitas industri dan operasional PLTU batu bara captive. Masyarakat berpotensi terpapar polutan udara seperti PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2) secara terus-menerus.

Di sektor lingkungan, aktivitas industri dan lalu lintas kapal menekan ekosistem pesisir dan laut. Ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang menghadapi ancaman yang dapat mengganggu jalur migrasi berbagai spesies laut serta mengurangi keanekaragaman hayati.

Jejaring Bisnis dan Kekuasaan di Balik Proyek

"Kehadiran PLTU batu bara captive yang dibangun justru memperburuk keselamatan manusia dan alam. Ini merupakan bentuk baru mempertahankan ketergantungan pada energi fosil dengan manipulasi bahasa yang lebih dapat diterima," ujar Zakki Amali dari Trend Asia.

Para peneliti juga menelusuri jejaring aktor korporasi dan sejumlah figur yang disebut memiliki kedekatan dengan kekuasaan politik. Mereka menilai terdapat konsolidasi kepentingan antara bisnis energi, industri ekstraktif, dan kekuasaan. Manfaat ekonomi lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sementara risiko sosial dan ekologis ditanggung masyarakat di tingkat tapak.

Selain PLTU captive, kawasan ini juga akan memperoleh pasokan listrik dari proyek pembangkit tenaga air skala besar yang tengah dikembangkan di Kalimantan. Berdasarkan temuan, kedua sumber energi tersebut masih menyisakan persoalan sosial dan ekologis. Pemerintah pusat maupun daerah perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.

Follow kabartarakan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: eksposkaltim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks