Pemerintah menarik pembiayaan utang neto senilai Rp506 triliun per 31 Agustus 2026, setara 60,8 persen dari target APBN Rp832,2 triliun. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan realisasi itu berasal dari Surat Berharga Negara Rp527,4 triliun, sementara pinjaman tercatat negatif Rp21,4 triliun. Pemerintah memastikan penarikan utang berjalan on-track dan akan dilaporkan berkala.
JAKARTA — Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan pembiayaan utang neto pemerintah mencapai Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026. Angka itu setara 60,8 persen dari target APBN 2026 senilai Rp832,2 triliun.
Realisasi tersebut disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026 di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta. Pemerintah menyebut penarikan utang dilakukan secara bijak dan terukur.
Surat Berharga Negara Dominasi Pembiayaan
Dari total pembiayaan utang, Surat Berharga Negara (SBN) menyumbang Rp527,4 triliun. Nilai itu setara 66 persen dari target APBN untuk SBN sebesar Rp799,5 triliun.
Di sisi lain, pembiayaan melalui pinjaman justru tercatat negatif Rp21,4 triliun. Angka tersebut setara negatif 65,5 persen dibandingkan pagu pinjaman dalam APBN 2026 sebesar Rp32,7 triliun.
Pemerintah menjelaskan pengelolaan pembiayaan memperhatikan kondisi kas yang optimal dan dinamika pasar keuangan. Langkah antisipatif lewat active cash and debt management dijalankan untuk menjaga kecukupan likuiditas.
Defisit APBN 0,93 Persen terhadap PDB
Hingga 31 Agustus 2026, APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara terealisasi Rp2.055,6 triliun, sedangkan belanja negara Rp2.295,7 triliun.
Keseimbangan primer mencetak surplus Rp154 triliun. Kondisi itu dinilai mencerminkan fiskal yang masih memadai untuk mengelola pendapatan, belanja, dan utang.
Pemenuhan target pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan biaya dana yang efisien, mitigasi risiko, serta tata kelola yang baik. Pemerintah menyebut indikator utang tetap dijaga pada level aman.
Menkeu Pastikan Penarikan Utang Sesuai Rencana
Suahasil menegaskan kinerja pembiayaan utang tetap on-track dengan desain APBN yang telah disiapkan. Pergerakan penarikan utang akan dilaporkan secara berkala.
"Agustus ini on-track, sesuai dengan rencana APBN. Kami perhatikan terus ke depannya dan akan kami laporkan terus," ujarnya.
Pemerintah akan terus memantau dinamika pasar keuangan dan kondisi kas negara. Pelaporan berkala dijanjikan agar pengelolaan pembiayaan tetap transparan dan terukur.