KALIMANTAN UTARA — “Sejak adanya bantuan dari Pertamina Patra Niaga, kebutuhan sarapan anak-anak bisa terpenuhi dari hasil ternak ini,” ujar Asih, anggota Kelompok Habonaron, dalam keterangan resmi, Minggu (7/6/2026).
Alternatif Penghidupan di Tengah Ancaman Abrasi
Program Community Involvement and Development (CID) ini menyasar warga pesisir yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil laut. Kondisi cuaca yang tidak menentu, keterbatasan sarana perikanan, serta abrasi pantai membuat pendapatan nelayan tidak stabil.
Lewat teknologi bioflok, budidaya ikan nila bisa dilakukan di lahan terbatas tanpa bergantung pada musim. Sistem ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya, sehingga kualitas air tetap terjaga dan ikan bisa tumbuh optimal.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian Pangan
Pertamina Patra Niaga tidak hanya memberikan bantuan bibit dan pakan. Perusahaan juga mendampingi kelompok tani ikan setempat dalam hal manajemen usaha dan pemasaran hasil panen. Tujuannya, program ini bisa berjalan mandiri dalam jangka panjang.
“Kami ingin menciptakan sumber penghasilan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat, bukan sekadar bantuan sesaat,” demikian pernyataan manajemen Pertamina Patra Niaga dalam siaran pers yang sama.
Kelompok Habonaron kini ruten memanen ikan nila setiap beberapa minggu sekali. Hasilnya dijual ke pasar lokal maupun dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Ketahanan Pangan dari Pinggir Kota Dumai
Kelurahan Mundam yang berada di Kecamatan Medang Kampai merupakan salah satu wilayah pesisir di Dumai yang rawan abrasi. Dengan adanya program CID ini, masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada hasil laut yang tidak pasti.
Pertamina Patra Niaga menegaskan akan terus memperluas program serupa di wilayah operasional lainnya. Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari tingkat akar rumput.
Bagi warga seperti Asih, bantuan itu berarti lebih dari sekadar ikan. “Kami jadi punya tabungan pangan harian,” katanya.