BULUNGAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara mencatat adanya perbaikan status gizi balita di wilayahnya, meski angkanya masih jauh dari target eliminasi. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), jumlah anak yang mengalami stunting di Kaltara kini berada di angka 2.880 anak pada semester I 2026.
Jumlah tersebut turun tipis jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni 2.894 anak. Meski selisihnya hanya belasan kasus, Dinkes Kaltara menilai capaian ini merupakan sinyal positif dari kerja sama lintas sektor yang selama ini dijalankan di tingkat kabupaten/kota.
Penurunan 14 Kasus: Hasil Pemantauan Posyandu yang Lebih Ketat
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan pada Dinkes Kaltara, Arief Rakhman, mengungkapkan bahwa pendataan yang akurat melalui e-PPGBM menjadi kunci utama dalam mendeteksi kasus baru. Pihaknya tidak hanya mengandalkan laporan dari puskesmas, tetapi juga aktif memantau tumbuh kembang balita di posyandu.
"Sejumlah langkah terus kami lakukan, mulai dari pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, pemberian intervensi gizi, hingga penguatan peran Posyandu di tengah masyarakat," katanya, Senin (10/8/2026).
Bukan Sekadar Tugas Puskesmas, Peran Keluarga Jadi Penentu
Menurut Arief, penurunan angka stunting yang terjadi di Kaltara tidak serta-merta membuat program pencegahan bisa dilonggarkan. Justru di titik inilah konsistensi intervensi diuji, terutama dalam memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi di masa pertumbuhan kritis.
Pihaknya mengingatkan bahwa perbaikan gizi masyarakat tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lingkungan terdekat anak. Peran keluarga dan kader posyandu dinilai sama pentingnya dengan layanan medis di fasilitas kesehatan.
"Kami menilai pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Peran keluarga, kader Posyandu, pemerintah daerah, hingga masyarakat diperlukan untuk memastikan program penanganan stunting berjalan secara berkelanjutan," sebutnya.
Target ke Depan: Tekan Angka Stunting Baru di 5 Kabupaten/Kota
Dinkes Kaltara berharap kolaborasi yang sudah terbangun dapat semakin mempercepat penurunan prevalensi di daerah-daerah yang angkanya masih tinggi. Fokus percepatan diarahkan pada peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu hamil dan bayi di bawah dua tahun (baduta).
"Penurunan ini harus terus dijaga. Pencegahan stunting harus dilakukan secara konsisten melalui kolaborasi semua pihak," pungkasnya.
Dengan adanya tren perbaikan ini, pemerintah menargetkan tidak ada lagi kasus stunting baru yang muncul di Kalimantan Utara pada periode penilaian berikutnya. (*)