KALIMANTAN UTARA — Larangan penjualan Polestar di pasar AS yang diumumkan pada 25 Juni lalu ternyata menyisakan teka-teki. Menurut surat yang dikirim Polestar ke jaringan diler pada 18 Agustus lalu, dan dilihat oleh The Wall Street Journal, pabrikan mengaku tidak mendapat penjelasan resmi atas larangan yang berlaku mulai 2027 itu.
Padahal, dalam surat tersebut, Polestar mengklaim pihak Departemen Perdagangan AS sempat memberi sinyal positif pada Januari 2026. Saat itu, pejabat departemen disebut sudah siap merekomendasikan persetujuan Polestar untuk tetap berjualan di Amerika. Namun dua bulan setelah Volvo mendapat restu pada Mei, Polestar justru ditolak—padahal keduanya berada di bawah naungan Zhejiang Geely Holding Group.
Proses Review 13 Bulan Berujung Penolakan
Peter Wexler, kepala produk, jaringan ritel, dan urusan pemerintahan Polestar AS, dalam surat tersebut menyatakan fokus perusahaan kini mencari tahu dasar penolakan itu. "Pada dasarnya, kami tengah berupaya menarik perhatian (Departemen Perdagangan) untuk mendapatkan informasi yang diminta dan memahami dasar di balik penolakan ini," tulisnya.
Proses yang dijalani Polestar terbilang panjang. Sepanjang 2025, pabrikan menjawab berbagai pertanyaan dari Departemen Perdagangan, dan jawaban itu disebut memuaskan. Total, agensi federal itu melakukan review selama 13 bulan terhadap praktik data Polestar, dengan perpanjangan tenggat hingga empat kali.
Janji Lisan yang Tak Ditepati
Puncaknya terjadi pada April 2026. Wexler mengklaim Jeffrey Kessler, Under Secretary for Industry and Security di Departemen Perdagangan, sempat mengatakan kepada manajemen Polestar bahwa wajar jika mereka berharap mendapat persetujuan bila Volvo juga disetujui. Polestar bahkan sudah menawarkan diskusi soal langkah mitigasi terkait penyimpanan dan akses data, plus audit keamanan siber independen.
Dua bulan kemudian, penolakan datang juga. Polestar lantas mengirim surat ke Departemen Perdagangan yang menyebut perlakuan terhadap mereka tidak adil dan "bertentangan dengan hukum".
Fokus ke Eropa, Diler Tuntut Ganti Rugi
Meski kecewa, Polestar memilih tidak mengajukan banding atas larangan tersebut. Pabrikan akan memfokuskan diri pada pasar Eropa. "Saya bisa konfirmasi bahwa kami telah meminta klarifikasi dari BIS (Bureau of Industry and Security) soal dasar keputusan mereka. Fokus kami tetap memastikan dukungan bagi pelanggan Polestar yang ada. Seperti diketahui, mulai tahun model 2027 kami tidak akan diizinkan menjual mobil baru di AS," ujar juru bicara Polestar kepada Road & Track.
Keputusan ini memicu reaksi dari jaringan diler. Sekelompok diler di New Jersey menggugat Polestar dengan tuntutan ganti rugi USD 25 juta, atau setara sekitar Rp 400 miliar (kurs Rp 16.000), atas pendapatan yang hilang dan pelanggaran New Jersey's Franchise Practices Act.
Kasus ini menambah daftar panjang ketidakpastian regulasi kendaraan berteknologi China di pasar AS. Bagi pemilik Polestar di Amerika, kepastian layanan purnajual menjadi pertanyaan besar di tengah proses keluar masuknya merek ini dari pasar.