TARAKAN — Usaha kecil menengah di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Tarakan Tengah, ini membuktikan bahwa produk budaya bisa menjadi tulang punggung ekonomi. MARCO Handmade, yang dirintis Agatha Chelsia Fange, kini memproduksi singal—ikat kepala khas Kalimantan Utara—dalam jumlah ratusan potong per bulan untuk memenuhi pesanan dan stok galeri UMKM.
Keberadaan usaha ini tidak hanya menghidupi pemiliknya, tetapi juga tiga karyawan tetap serta sejumlah pelajar magang. Bahkan, seorang penyandang tunawicara bernama Diana turut terlibat dalam proses produksi, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkarya.
Berawal dari Lesunya Penjualan APD Saat Pandemi
Chelsia mengaku awal mula usahanya justru lahir dari keterpurukan. Sebelumnya, ia memproduksi alat pelindung diri (APD) yang permintaannya melonjak saat pandemi COVID-19 melanda. Namun, ketika kasus mulai mereda, permintaan APD ikut menurun drastis.
“Awalnya di masa pandemi, sebelumnya kami membuat APD. Ketika permintaan APD menurun, kami berpikir kerajinan apa yang menjadi khas Tarakan selain makanan. Akhirnya kami memilih membuat ikat kepala untuk laki-laki,” ujar Chelsia.
Pilihan itu menjadi titik balik. Singal yang dibuat tidak hanya dari kain polos, tetapi juga batik bermotif Tidung, Dayak, hingga Bulungan. Untuk memudahkan pengguna, Chelsia mengembangkan varian singal siap pakai yang tidak perlu dilipat atau dibentuk manual.
Produksi Meningkat Saat ASN Wajib Pakai Singal
Penjualan awal memang kecil, hanya lima hingga sepuluh potong. Namun, permintaan melonjak tajam ketika penggunaan singal mulai diberlakukan bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta kabupaten dan kota.
Pada masa puncak, produksi MARCO Handmade mencapai 700 potong per bulan. “Alhamdulillah sampai sekarang produksi terus berjalan. Selain memenuhi pesanan, kami juga membuat stok untuk di galeri UMKM. Walaupun sekarang produksi sudah menurun dari awalnya yang mencapai 700 pcs, rata-rata setiap bulan minimal 250 pcs,” ungkapnya.
Pameran Jadi Jalan Perkenalkan Singal ke Pasar Luas
Untuk memperluas jangkauan, Chelsia aktif mengikuti berbagai pameran UMKM yang digelar pemerintah, BUMN, maupun Bank Indonesia. Ia menilai pameran menjadi ruang strategis mempertemukan produk lokal dengan calon konsumen dari luar daerah.
“Kalau ada pameran, kami selalu berusaha ikut. Produk kami bisa dikenal lebih luas, bukan hanya masyarakat Tarakan, tetapi juga tamu dari luar daerah. Pameran yang digelar pemerintah, BUMN maupun Bank Indonesia sangat membantu kami memperkenalkan produk,” katanya.
Menghidupi Keluarga dan Memberi Ruang bagi Disabilitas
Dampak ekonomi dari usaha ini dirasakan langsung oleh para pekerjanya. Nani, karyawan yang bergabung sejak 2023, mengaku penghasilan dari menjahit singal sangat membantu kebutuhan rumah tangganya.
“Sejak bergabung tahun 2023, pekerjaan ini sangat membantu untuk menambah kebutuhan ekonomi. Selain mendapatkan penghasilan, saya juga bisa belajar membuat singal dan keterampilan lainnya,” tuturnya.
“Alhamdulillah, dari pekerjaan ini ekonomi saya lumayan terbantu, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan pekerjaan ini, setidaknya kebutuhan rumah tangga masih bisa terpenuhi,” ujarnya di sela-sela menjahit singal, Rabu (26/08/2026).
Semangat pemberdayaan ini juga menyentuh penyandang disabilitas. Diana, karyawan tunawicara, tetap produktif dalam proses produksi. Baginya, kemampuan berkarya menjadi hal yang lebih utama ketimbang keterbatasan komunikasi.
Saat ini, singal produksi MARCO Handmade dipasarkan dengan harga Rp 300 ribu per potong. Nilai tersebut sepadan dengan kualitas dan cerita budaya yang melekat pada setiap helai kainnya.