KALIMANTAN UTARA — Antrean demi anak memang wajar. Namun saat orang tua begitu ngotot memilihkan bimbel, pertanyaannya bukan lagi soal seberapa besar kasih sayang kita, melainkan apakah pilihan itu benar-benar untuk anak atau untuk kepuasan orang tua sendiri.
Pengamat pendidikan UGM, Dr. Agustinus Subarsono, M.Si., MA, menyebut keterlibatan orang tua memang berpengaruh besar pada keberhasilan akademik anak. Hanya saja, intervensi itu tidak boleh sama di semua usia.
Kunci Bukan di Seberapa Sering, Tapi Seberapa Tepat
Sebuah laporan UNICEF menyebut keterlibatan orang tua dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesejahteraan anak. Namun studi lain dari Universitas Illinois, seperti dikutip dari para ahli, justru menyoroti hal yang lebih dalam: bukan seberapa banyak orang tua terlibat, melainkan apakah keterlibatan itu sesuai kebutuhan anak. Kalau sudah terlalu mengontrol, justru kompetensi anak yang bisa terganggu.
Saat anak masih kecil, keterlibatan orang tua memang hampir 100 persen. Memasuki SMP, intervensi mulai berkurang. “Ketika masuk SMP, intervensi ortu semakin berkurang karena anak sudah punya pengetahuan dan nilai meski sangat terbatas. Demikian juga, ketika masuk SMA anak bisa menentukan pilihan sendiri dengan pertimbangan minimalis dari orang tua,” jelas Subarsono pada Rabu (2/9/2026).
Saat anak duduk di bangku kuliah, seharusnya otonomi mereka makin besar. Orang tua cukup jadi fasilitator. Bila anak sudah punya pilihan tapi orang tua tetap memaksakan jurusan tertentu, hasilnya tidak akan optimal. Anak jadi kehilangan ruang untuk mengenali potensi dirinya sendiri.
Bukan Cuma karena Sekolah Kurang, Tapi Juga Obsesi Orang Tua
Fenomena bimbel yang terasa seperti “perang” ini tidak muncul begitu saja. Banyak siswa SMA memilih bimbel untuk persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Subarsono menilai ini tanda bahwa masyarakat belum sepenuhnya percaya pembelajaran di sekolah cukup mengantarkan anak ke kampus impian. Guru juga kerap terbebani target menuntaskan materi, sementara pemahaman anak di kelas belum tuntas.
Kondisi ini melahirkan sistem shadow education—pendidikan “bayangan” yang berjalan paralel dengan sekolah. Tren serupa pernah disorot UNESCO di Asia. Di Korea Selatan saja, laporan Financial Times menyebut 47 persen anak di bawah enam tahun sudah mengikuti bimbel. Angka itu memperlihatkan betapa besarnya tekanan sosial yang ikut membentuk keputusan orang tua.
Sayangnya, ada faktor lain yang tak kalah besar: obsesi pribadi orang tua. “Obsesi yang terlalu besar dari orang tua untuk mencetak anak-anaknya seperti mimpinya, dan lupa bahwa anak memiliki mimpi sendiri. Dalam hal ini anak dijadikan obyek bagi pemenuhan obsesi orang tua,” ungkap Subarsono.
Jadi Fasilitator, Bukan “Penyetir” Mimpi Anak
Di era digital dan kecerdasan buatan sekarang, pendidikan formal memang bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Banyak orang berhasil lewat pelatihan atau belajar mandiri. Karena itu, orang tua perlu menurunkan egonya.
Alih-alih memaksa anak masuk bimbel tertentu, Subarsono mengingatkan bahwa tugas orang tua adalah mendengarkan kebutuhan anak dan menjadi teman diskusi. Setiap anak punya pengetahuan, karakter, dan talenta berbeda. Termasuk mimpi yang tidak sama dengan mimpi orang tuanya.
“Berikan ruang bagi anak dalam mengejar mimpinya sendiri, jangan dipaksa mengejar mimpi ortunya,” tegas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM tersebut.
Orang tua juga sebaiknya mendukung kemandirian anak. Semakin dewasa, anak perlu mengambil keputusan pendidikan sendiri—orang tua cukup jadi penasihat dan pendamping. Tak hanya itu, kolaborasi dengan sekolah juga penting untuk memantau perkembangan akademik, perilaku, dan minat anak. Jangan serahkan keberhasilan anak seratus persen ke tangan sekolah.
Niat memberi yang terbaik untuk anak itu mulia. Yang perlu diingat, “yang terbaik” versi kita belum tentu yang terbaik versi mereka. Mungkin saja pilihan anak di luar jalur bimbel mainstream justru membawanya lebih dekat ke mimpi yang ia gantung sendiri.