Agatha Chelsia Fange (58), perajin ecoprint asal Tarakan, Kalimantan Utara, mengubah kain katun polos menjadi karya seni bernilai tinggi dengan mencetak motif flora endemis Kalimantan. Setiap helai kain yang dihasilkannya dijamin tunggal dan tak akan pernah memiliki duplikat yang persis sama, bahkan jika dibuat dengan daun dari pohon yang sama.
TARAKAN — Di atas meja kayu di dapur rumahnya, Agatha Chelsia Fange membentangkan kain katun putih berukuran 40x175 sentimeter. Perempuan yang akrab disapa Chelsea ini bukan sekadar menjahit atau membatik. Ia adalah Ketua Asosiasi Ecoprint Indonesia untuk wilayah Kalimantan yang mendedikasikan diri pada seni mencetak motif kain menggunakan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar, seperti daun, bunga, batang, hingga ranting.
Proses pembuatan wastra ecoprint khas Kalimantan Utara ini dimulai dari ritual panjang. Kain polos terlebih dahulu ditenggelamkan dalam rendaman sabun ringan selama 30 menit. "Itu dinamakan proses scoring atau dicuci dari jejak minyak kotoran-kotoran dari pabrik yang menempel di kain. Kemudian kain tersebut dengan direndam selama 30 menit dengan sabun ringan, dari air rendaman ada terlihat kuning-kuning dari kain, dilanjutkan membuka serat kain untuk bisa menerima jejak-jejak daun jika diproses," kata Chelsea, Senin (24/8).
Daun Ketapang Hingga Ilalang Endemis Jadi Sumber Motif
Setelah kain dalam kondisi atus—basah tapi tak menetes dan seratnya terbuka—Chelsea mulai menata daun-daun di atas bentangan kain. Jemarinya yang lembut menyusun daun ketapang, pakis-pakisan, ilalang, hingga potongan kayu merah sesuai jiwa seninya. "Posisi tulang daun harus pas menempel di kain. Hal ini menentukan tajam atau lembutnya warna dan motif daun yang akan tertinggal nanti," ujarnya.
Keunikan karya Chelsea terletak pada bahan bakunya. Ia banyak menggunakan tanaman endemis Kalimantan yang tidak terdapat di daerah lain, seperti ilalang yang menghasilkan warna merah dan navy. Tanaman-tanaman ini kebanyakan ia tanam sendiri di sekitar rumahnya.
Proses Dikukus 1,5 Jam, Warna yang Muncul Tak Pernah Bisa Diprediksi
Selesai ditata, kain digulung ketat dan diikat rapat sebelum dikukus selama 1,5 jam dalam dandang besar beruap panas. Panas kukusan secara perlahan memaksa pigmentasi alami daun berpindah dan menyatu ke dalam serat kain. Saat gulungan dibuka dan sisa daun layu disapu, terpancarlah kejutan magis berupa lukisan alami yang tercetak sempurna.
Menurut Chelsea, faktor ketidakpastian justru menjadi ciri eksklusif karya ecoprint. Warna yang muncul kadang tidak sesuai prediksi, namun hal inilah yang memastikan satu helai kain menghasilkan satu karya tanpa ada yang sama. "Setiap daun memiliki ukuran, tulang daun serta menghasilkan warna yang berbeda satu dengan yang lain, walaupun dari satu jenis flora atau tumbuhan yang sama," jelasnya.
Fiksasi dengan Tawas dan Tunjung, Karya Siap Dipasarkan
Setelah proses pengukusan, kain diangin-anginkan selama lima hari sebelum dilakukan fiksasi. "Menggunakan tawas atau kapur untuk memberikan efek warna putih, juga menggunakan tunjung untuk memberikan efek warna karat besi dan tidak mudah luntur," kata Chelsea. Teknik yang ia kuasai meliputi tiga cara, yakni pounding atau diketok tanpa dikukus, dikukus langsung, dan dikukus dengan transfer warna.
Sejak menekuni seni ecoprint pada 2020, Chelsea kerap mengombinasikan karyanya dengan motif etnik Dayak untuk memberikan ciri khas. Kini, wastra ecoprint Flora Benuanta buatannya banyak dipasarkan dalam bentuk syal. Ia menjual syal ukuran 40x175 sentimeter seharga Rp125 ribu per helai dan ukuran 60x200 sentimeter dengan harga Rp180 ribu. "Saya biasa menjual di toko saya dan di media sosial Instagram dengan akun marcohandmadetrk," tutupnya.