IPO ini mengumpulkan dana segar sebesar USD 75 miliar, melampaui rekor Saudi Aramco pada 2019 yang hanya menggalang USD 25,6 miliar. Bedanya, Aramco saat itu sudah mencetak laba besar. SpaceX justru belum untung secara keseluruhan: divisi roket dan X masih jeblok, sementara Starlink menjadi satu-satunya lengan bisnis yang mencetak pendapatan positif—USD 4,42 miliar tahun lalu. Angka itu pun masih kalah jauh dibanding kerugian xAI yang mencapai USD 6,35 miliar pada periode yang sama.
Mengapa IPO Ini Berbeda: Bukan Sekadar Roket, Tapi Ekosistem Musk
SpaceX yang diperdagangkan dengan kode ticker SPCX bukanlah perusahaan roket murni. Ini adalah konglomerat hasil penggabungan ambisi luar angkasa Musk (SpaceX), layanan internet satelit (Starlink), chatbot Grok (xAI), dan media sosial X—mantan Twitter. Struktur ini belum pernah ada sebelumnya di pasar modal: satu entitas yang menggabungkan infrastruktur keras, AI yang kontroversial, dan platform komunikasi massa.
Yang lebih menarik, valuasi SpaceX saat ini sekitar 1.000 kali lipat dari valuasi IPO Tesla pada 2010 (yang saat itu hanya USD 1,7 miliar). Padahal Tesla sudah mencetak laba konsisten, sementara SpaceX masih membakar uang di hampir semua lini bisnisnya.
Harga Saham dan Jadwal Perdagangan
Saham SpaceX dibuka dengan harga USD 135 per lembar. Jendela perdagangan perdana diperkirakan dimulai pukul 09.50 waktu AS bagian timur (sekitar pukul 20.50 WIB). Semua mata tertuju pada pergerakan harga di menit-menit awal—apakah akan melesat seperti IPO teknologi lain di era 2010-an, atau justru terkoreksi karena valuasi yang dinilai terlalu tinggi oleh analis Wall Street.
Apa Artinya bagi Investor Indonesia?
Bagi investor ritel di Indonesia yang memiliki reksa dana indeks atau ETF global yang melacak Nasdaq, saham SpaceX kemungkinan besar akan masuk secara otomatis dalam portofolio mereka. Ini berarti eksposur terhadap perusahaan yang belum terbukti profitable, namun memiliki daya tarik spekulatif yang luar biasa karena nama besar Musk dan cerita kolonisasi Mars.
Belum ada kepastian apakah Bursa Efek Indonesia akan menerbitkan produk derivatif atau reksa dana khusus yang melacak SPCX dalam waktu dekat. Namun, minat investor lokal terhadap saham teknologi AS tergolong tinggi—terlihat dari antrean panjang pembukaan rekening sekuritas asing setiap kali IPO besar terjadi.
Risiko di Balik Ambisi: Grok, X, dan Kontroversi
Salah satu lengan bisnis yang paling menarik perhatian adalah xAI dengan chatbot Grok-nya. Grok dikenal karena pengaturan keamanan yang sangat longgar—sempat memungkinkan pengguna menghasilkan gambar seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Ini menjadi sorotan regulator di beberapa negara dan bisa menjadi bom waktu reputasi bagi perusahaan publik yang tunduk pada keterbukaan informasi.
Belum lagi X yang masih berdarah-darah secara finansial sejak diakuisisi Musk. Dengan struktur tata kelola yang memastikan Musk tetap memegang kendali penuh, investor publik hanya bisa pasrah pada keputusan seorang miliarder yang terkenal impulsif.
Musk di Hari IPO: "Saya Kira Kami Akan Gagal"
Dalam pidato dari Starbase, Texas, pagi ini, Musk mengakui bahwa ia memberi SpaceX peluang sukses kurang dari 10 persen saat memulainya pada 2002. "Saya bilang ke orang-orang, kami mungkin akan gagal, tapi setidaknya kami harus mencoba. Karena kalau tidak ada perusahaan baru yang masuk ke luar angkasa, kita tidak akan pernah benar-benar menjadi peradaban antariksa," ujarnya.
IPO ini juga membuka jalan bagi rival AI seperti Anthropic dan OpenAI yang dikabarkan mulai mengambil langkah menuju pencatatan saham publik mereka sendiri. Jika pasar merespons positif SpaceX, pintu bagi IPO AI murni pertama di dunia akan terbuka lebar.