KALIMANTAN UTARA — Blitar, Jawa Timur — Setelah lima tahun beroperasi di jalanan Indonesia, Hyundai Ioniq Electric 2020 masih menyisakan satu pertanyaan besar: apakah mobil listrik generasi awal ini masih layak dibeli di pasar sekunder? Untuk menjawabnya, kami mengambil unit bekas dan menguji langsung karakteristik berkendaranya di jalur perkotaan hingga jalan kabupaten di sekitar Blitar.
Pajak Nol Rupiah dan Bebas Ganjil Genap: Dua Insentif Paling Nyata
Keuntungan pertama yang langsung terasa di kantong adalah pajak kendaraan bermotor (PKB) yang benar-benar nol rupiah. Kebijakan Pemprov Jawa Timur untuk EV membuat Ioniq Electric 2020 tidak lagi membebani pemilik dengan biaya tahunan yang biasanya mencapai Rp 3-4 juta untuk mobil konvensional sekelasnya.
Ditambah lagi, status mobil listrik membuatnya otomatis bebas aturan ganjil-genap di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Bagi pengguna yang setiap hari bergelut dengan kemacetan, ini adalah nilai jual yang sulit ditandingi mobil bensin mana pun.
Respons Setir Tajam, Suspensi Cenderung Kering
Satu putaran pertama di jalan raya Blitar langsung menunjukkan DNA Hyundai Ioniq Electric. Setirnya terasa ringan saat parkir, namun progresif dan berbobot saat kecepatan naik. Power steering elektriknya memberi umpan balik yang cukup informatif — sesuatu yang langka di mobil listrik entry-level.
Sayangnya, suspensi belakang torsion beam membuat mobil ini terasa agak kaku saat melewati polisi tidur atau jalan berlubang. Di kecepatan rendah, guncangan dari roda belakang cukup terasa di kursi penumpang. Tapi begitu melaju di atas 60 km/jam di aspal mulus, karakter suspensi berubah stabil dan planted.
Performa Motor Listrik: 118 HP Cukup untuk Harian, Bukan untuk Balap
Motor listriknya menghasilkan tenaga 118 HP dan torsi instan 295 Nm. Angka ini memang tidak membuat Ioniq Electric 2020 terasa seperti roket, tapi akselerasi dari 0-60 km/jam terasa responsif dan linear. Tidak ada lag, tidak ada perpindahan gigi — injak pedal, tenaga langsung mengalir.
Untuk penggunaan harian di dalam kota, tenaga ini lebih dari cukup. Menyalip kendaraan lambat di jalan dua arah pun terasa aman karena respons pedal yang cepat. Namun di jalan tol, akselerasi di atas 100 km/jam mulai landai — wajar untuk motor listrik generasi pertama dengan daya segini.
Baterai 28 kWh: Jarak Tempuh Realistis 160-180 Kilometer
Hyundai mengklaim jarak tempuh Ioniq Electric 2020 mencapai 200 kilometer dalam kondisi ideal. Di rute Blitar yang campuran (macet kota dan jalan kabupaten landai), kami mencatat konsumsi energi rata-rata 14,5 kWh/100 km. Artinya, jarak tempuh realistis ada di angka 160-180 kilometer sekali cas.
Angka ini masih cukup untuk mobilitas harian warga Surabaya atau Jakarta yang jarak tempuh rata-rata 40-60 km per hari. Tapi untuk perjalanan antar kota tanpa infrastruktur SPKLU yang padat, pemilik harus benar-benar merencanakan rute pengisian daya.
Kesimpulan: Rasional, Tapi Bukan untuk Semua Orang
Hyundai Ioniq Electric 2020 adalah pilihan paling rasional di segmen EV bekas bawah Rp 200 juta. Pajak nol, bebas ganjil-genap, handling responsif, dan biaya operasional rendah adalah kombinasi yang sulit ditandingi.
Namun, suspensi yang kaku dan jarak tempuh terbatas membuat mobil ini tidak cocok untuk pengguna yang sering membawa penumpang di jalan rusak atau membutuhkan mobilitas lintas kota setiap hari. Untuk kebutuhan harian di kota besar dengan jalan mulus, Ioniq Electric 2020 layak masuk daftar beli pertama.